Langsung ke konten utama

Melayu Food Festival 2016 di Pekanbaru



Sahabat Ummi...

Pada tanggal 10-11 Desember 2016 ini, ada perhelatan lagi di Pekanbaru, yaitu Melayu Food Festival. Wah, ini keren banget, kita jadi tahu apa saja makanan dan minuman khas Riau. Nggak cuma tahu, kita juga bisa langsung icip-icip. Tak hanya enak, tapi juga sehat, dan harganya terjangkau. Tentu asyik banget kalau kuliner ini bisa kita temui tiap hari di sini. Nah, itulah yang menjadi tantangannya. Makanan dan minuman khas daerah itu biasanya identik dengan orang-orang tua, orang-orang jaman dulu. Makanan dan minuman tersebut juga seringnya hanya bisa ditemukan di acara-acara penting/adat. Jadi nggak heran kalau banyak generasi muda yang nggak familiar dan nggak terbiasa dengan rasanya.

Padahal, mengkonsumsi kuliner khas daerah itu menyehatkan dibandingkan kulineran makanan junk food. Bahkan dengan mengkonsumsinya, itu berarti kita ikut melestarikannya. Trus dimana kita bisa menemukan makanan dan minuman tersebut di Pekanbaru setiap harinya?. Ada kok, di festival ini ada beberapa penjual yang memang berjualan kuliner tersebut, termasuk tempat-tempat makan khas melayu seperti pondok patin. Beli deh, biar usaha kuliner tersebut tetap ada dan bisa semakin berkembang.




Selain sebagai pembeli, kita bisa ikut berpartisipasi juga dengan membuat aneka kuliner tersebut di rumah, disajikan sebagai panganan keluarga, untuk menjamu tamu, atau menjadikannya oleh-oleh. Bahan dan cara pembuatannya juga nggak sulit kok. Yang pernah dan sering saya buat di dapur adalah mie sagu, asam pedas ikan patin, tempoyak durian, roti jala, dan roti canai. Berikutnya nih yah, saya bakal eksekusi resep kue hasidah yang saya dapatkan di salah satu stand yang saya kunjungi. Nanti saya share lagi yah.

Oke deh, ini beberapa kuliner yang sempat saya abadikan di acara Melayu Food Festival, sayangnya nggak banyak yang bisa saya icip, karena saya datengnya malam. Banyak yang udah habis. Harapannya sih, moga acara seperti ini rutin diadakan, kalau bisa setiap bulan ^___^


Mie sagu



Es Lancang Kuning

Manisan buah Renda

Kue Hasidah

Minuman Laksamana Mengamuk

Minuman Biji Delima



Komentar

  1. Makanan.x enak2 mbak

    Follback www.mangandosetiawan.com
    Salam kenal
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa enak banget

      Salam kenal juga, makasih udah mampir

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...