Langsung ke konten utama

Shooting Star




Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Kau tau.. terkadang ia bisa terang menderang mengalahkan pendar lainnya, tapi ia bisa begitu redup bahkan menghilang ditelan pekat malam dan tangis langit jingga. Cobalah mengerti, kau hanya perlu sabar menanti tiap detik menjadi menit dan tiap menit menjadi jam bahkan bulan ataupun menahun. Tak apa, kau butuh ikhlas yang akan membuat mu merasa diguyur es sewaktu di padang pasir. Menagislah karena itu refleksi jiwa yang membuat mu masih merasa manusia, cukup, karena banjir bandang sekalipun tak akan membalikkan waktu barang sedetik, kau cukup melongok sejenak dan mengemas semuanya ke dalam kopor berjudul masa lalu dan bergegas melangkah ke masa depan.

          Suatu hari nanti, jangan tunjuk bintang lainnya untuk menggantikan bintang mu, ia akan bernasib sama. Kau cukup pandangi saja atau menyapanya lewat angin malam yang sama. Lalu tanyakan kepada bunda rembulan mengapa sabit atau purnama. Kau merasa terjebak dalam pusaran waktu, mengapa memilih gemintang bukan rembulan, seperti kau bandingkan antara siang dan malam. Tak perlu sungkan, itu suatu kewajaran mengingat kembali bahwa kau adalah manusia. Bosan dan amarah bisa saja meraja, mengalahkan segalanya, tapi tanyakan hati mu dimanakah akan berlabuh.

          Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Kau takkan mampu menghindar, karena cahayanya menikam sanubari mu, menjadi desahan nafasmu dan mengaliri darah mu, membuat mu megenal hidup dan mati. Kau mampu menjawab segalanya, karena malam menguntai berjuta makna, dalam nyata ataupun lelap mu.

          Suatu hari nanti, coba kau tunjuk satu bintang sebagai pendar harapan mu. Pastikan yang terbaik dari yang kau mampu. Maka, aku langit malam mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...