Langsung ke konten utama

Hidupkan Mading (Majalah Dinding)

Ini masih seputar cerita tentang saat saya menjadi pembicara di seminar di UIR (Universitas Islam Riau) pada hari ibu lalu. Acara usai tepat sebelum waktu shalat zuhur masuk. Setelah itu, saya dan Bunda Mutia langsung menuju masjid kampus untuk melaksanakan shalat zuhur. Ada yang menarik perhatian saya di sana, seusai shalat, saya lama sekali berdiri di hadapan sebuah papan besar yang tergantung di dinding, yang dikenal dengan mading, majalah dinding.

Saya merasa kembali bernostalgia pada masa-masa sekolah dan kuliah dulu. Saya aktif sebagai anggota mading, bahkan saat saya masih mengajar dulu, saya adalah pembina mading. Senang sekali rasanya masih ada yang aktif untuk mengurus mading. Bisa dikatakan lewat madinglah saya mulai berani mengekpos tulisan-tulisan saya. Jadi, setidaknya ada beberapa manfaat bagi kita yang aktif mengisi mading, seperti:
  • Mading biasanya setiap waktu penayangannya memiliki tema tertentu. Jadi, selain terbiasa menulis, kita juga menjadi terbiasa untuk mencari dan mengolah informasi yang berkaitan dengan tema, menjadi sesuatu yang tidak hanya menambah pengetahuan pembaca tetapi juga asyik dibaca, mudah dimengerti. Bagaimanapun, artikel yang kita tulis dibatasi oleh jumlah halaman.
  • Mading melatih kreativitas kita. Kita harus bisa membuat mading semenarik mungkin, terutama bagi penglihatan. Setelah terlihat menarik, orang-orang akan tertarik untuk membacanya.
  • Mading melatih kita untuk patuh deadline. Nah, karena mading biasanya tayang ada tema dan waktunya, maka setiap anggota yang ditugaskan harus bisa menyelesaikan bahan-bahan untuk mading sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Nah, kalau dilihat dari mading yang ada di Masjid kampus UIR tersebut, madingnya sudah memenuhi syarat sebagai mading yang baik. Madingnya tak hanya informatif tapi juga menarik ^_^






Komentar

  1. Waaah kirain kalau udah kuliah itu nggak ada mading lagi ya heheeee.... Di UGM nggak ada soalnya. Adanya buletin mahasiswa di masing2 jurusan, fakultas & BEM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yang buat organisasi keislaman Mbak, jadi ditempelnya di area Masjid. Kalau di Setiap fakultas atau jurusan zaman saya kuliah S1 dulu masih ada mading juga, cuma lebih formal,berisi pengumuman2 yang berkaitan kampus, beasiswa, or iklan gitu. Nggak sekreatif ini tampilannya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...