Langsung ke konten utama

Sarapan di Warung Pecel Mbah RODO



Hari minggu itu sehabis olahraga di Car Free Day (CFD), asyiknya hunting sarapan. Bosen juga sarapan di tempat yang itu-itu aja, si Abi ngajakin kami sarapan di warung pecel Mbah Rodo. Seingat saya, dulu sekali kami sudah pernah sarapan di warung ini. Ternyata sekarang, warungnya yang dulu terbuat dari papan dan jadul banget suasananya, telah berubah menjadi tempat yang lebih modern tapi tetap ada nuansa etniknya.


Ketika kita mulai duduk, sepiring gorengan berupa bakwan dan tempe, sepiring lepat yang dalamnya seperti kue talam, dihidangkan di meja kita. Menjelang soto daging dan pecel pesanan kami datang, si Abi langsung mencomot tempe yang telah diguyurnya dengan kuah kecap pedas. Sedangkan saya, mulai melahap lepatnya. Rasanya, ENAK!.







Sesuai dengan namanya, warung pecel Mbah Rodo ini menu spesialnya adalah pecel, yang konon rasanya pas banget seperti pecel yang biasa si Abi santap sewaktu kuliah di Yogya dulu. Untuk soto daging yang saya pesen, enak juga, dan uniknya sotonya diberi wortel. Jadi kaya' sop gitu yak :D



Yang unik juga, air putih yang tersedia di atas meja itu rasanya beda. Mbak Nai bilang, aneh. Tentu saja, airnya dimasak dengan menggunakan tungku dan kayu bakar, jadi ada rasa-rasa khasnya. Hari gini, di Pekanbaru pula, jarang banget nemu air putih rasa ini. Ah... jadi ingat air yang dulu saya minum saat nenek saya masih hidup.


Untuk harga, pecel cukup 11.000, soto daging 17.000, gorengan @1000, dan kue lepat 4.000. Masih terjangkau lah yah. Silahkan mampir ke jalan Kembang Sari/Letkol Hasan Basri no. 54 Pekanbaru.


Komentar

  1. inget lg masa kuliah thn 90an.. kalau awal bulan sarapan nya sering ke warung mbah rodo.... hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...