Langsung ke konten utama

Pasar Ramadhan

Ceritanya lagi JJS nih, trus karena bulan Ramadhan banyak dong pasar Ramadhan dadakan yang menjual aneka makanan dan minuman. Tadinya mau jalan ke tempat yang deket-deket aja dari rumah, eh nggak tahunya melalang buana agak jauh juga. Nah, pas sampai di jalan Ronggowarsito, berjejerlah pakpol (pak polisi), soalnya jalanan sering jadi macet, jadi mereka mengamankan dan mengatur deh. Tapi, karena kami perginya pakai motor, nggak pake helm, trus KTP dan SIM suami juga udah "mati", alhasil kami muter teratur hihihi....

Khawatir ntar kalau pak polisi teriak stoooooop... merekakan tahu yang mana wajah was-was dan yang mana nggak hehehe... Akhirnya kami mengunjungi pasar Ramadhan yang nggak ada pakpolnya. sampailah kami di pasar Ramadhan yang berada di pasar Lima Puluh. Wah rameeeeeee... banget.


Biasanya, saya suka beli kue-kue yang jarang bisa ditemui selain dari di bulan Ramadhan. Tapi maaf.. setelah buka kuenya ludeeees tanpa sempat dijepret. Nama kuenya juga saya kurang tahu, tapi kue khas melayu dah.



Besok mau hunting pasar Ramadhan lagi ah... jeprat-jepret gitu dan yang paling penting jangan lupa pakai helm xixixi...

Komentar

  1. pasar ramadhan biasanya bikin laper mata dg segala pilihannya ya :)

    BalasHapus
  2. Iya Mbak, ini yang harus diwanti-wanti. soalnya kalau udah buka malah bisa nggak kemakan semua ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...