Langsung ke konten utama

In Memoriam Tenas Effendy



Pertama kali bertemu dengan Bapak Tenas Effendy tahun 2012. Saat itu, saya ke sana bersama 5 orang teman lainnya, termasuk keponakan beliau, Kak Tengku Syawila Fitri yang memiliki sapaan akrab ii. Kami berbincang banyak tentang kepenulisan. Bapak Tenas Effendy terlihat sangat bangga bahwa ada penulis di Riau dan berharap kami juga mengangkat Bumi Melayu ini lewat tulisan.

 Di teras rumah Bapak Tenas Effendy

 Di halaman rumah Bapak Tenas Effendy

Di tangga sebelum masuk
ke rumah Bapak Tenas Effendy

Beliau telah menulis lebih dari 100 buah buku, yang diterbitkan oleh penerbit dalam dan luar negeri. Alhamdulillah... saya mendapatkan 1 bukunya dari Kak ii.


Kini, salah satu putra terbaik Riau itu telah meninggal dunia pada tanggal 28 Februari 2015 jam 00.25 wib di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad Pekanbaru, diusianya yang ke 79 tahun. Bapak H. Tenas Effendy adalah seorang budayawan dan sastrawan senior Riau. Semoga saja ada generasi setelah beliau yang bisa tetap melestarikan kebudayaan Riau, tak hanya fisik, tapi juga kekayaan bahasa dan kearifan lokal lainnya. Ya, semoga saja...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...