Langsung ke konten utama

Gerimis di Kebun Binatang Kasang Kulim Pekanbaru

Sudah ada rencana jalan-jalan ke manakah weekend nanti? Kalau belum, buat yang di Pekanbaru, nggak ada salahnya kalau berkunjung ke kebun binatang Kasang Kulim. Saya pribadi, dulu agak malas kalau ke sini, apalagi bawa anak-anak. Selain penataannya yang kurang bagus, juga terkesan kotor. Eits... tapi itu dulu. Sekarang, kebun binatang satu-satunya di Provinsi Riau yang telah ada sejak 1991 ini sudah banyak berbenah lho. Semua dipercantik dan bersih, jadi nyaman banget. Kita juga bisa bentang tikar sambil makan-makan.

Sewaktu liburan semester pertama Nai, kami mengajaknya ke kebun binatang Kasang Kulim. Ini kedua kalinya Nai ke kebun binatang, yang pertama malah ke Ragunan waktu di Jakarta dulu. Jadi, Nai senang banget pas tahu mau ke kebun binatang lagi. Pas di pertengahan jalan menuju Kasang Kulim, eh gerimis turun. Udah kepalang tanggung, kami tetap melanjutkan perjalanan. Sesampainya di sana, karena gerimis, pengunjung sedikit sekali, sepi. Jadi berasa itu kebun binatang kami yang punya hahaha...

Walaupun gerimis, Nai tetap semangat buat keliling di kebun binatang yang memiliki luas lahan 10 hektar ini. Untung aja di mobil sedia payung. Nah, berikut beberapa dokumentasinya, maaf yang dipake buat foto resolusi kameranya kurang, jadi fotonya kurang terang hihihi...

 Gerimis

 Naik delman


Berikut beberapa hewan-hewan yang ada di kebun binatang Kasang Kulim

 Beruang

 Burung

 Kuda nil

 Rusa
 Gajah

 Kuda

 Orang Utan


Berikut beberapa wahana air (o yah ada kolam renang anak juga, tapi nggak kefoto)

 Sepeda air

 Bola-bola air
 Perahu karet


Kebun Binatang Kasang Kulim 
Jalan Kubang Raya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Sekitar 25 km atau 30 menit dari pusat kota Pekanbaru.

Tiket
Dewasa: 20.000
Anak-anak: 10.000
Parkir: 5.000

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...