Langsung ke konten utama

Resep Es Gabus, Jajanan Masa Kecil Anak 90an

Untuk anak-anak yang lahir dan gede di tahun 80an or 90an, tentu nggak asing dengan es yang satu ini. Es gabus atau es roti namanya. Dulu es ini sama populernya dengan es potong. Duh, kangen banget deh dengan masa-masa itu. Nah, untuk mengobati rasa kangen, saya coba bikin deh. Udah lama si sebenarnya pengen bikin, tapi baru sekarang eksekusinya. Soale, kehabisan ide juga buat bikin camilan anak-anak yan g enak tapi simple dan tentunya segar, terlebih cuaca di pekanbaru lagi hot banget. Resepnya saya dapet hasil googling juga

Bahan:
  • Tepung hunkwe putih 100gr
  • Santan cair 1 liter
  • Gula pasir 200gr
  • Garam 1/2 sdt
  • Daun pandan 3 lembar (blender dengan santan)
Cara membuatnya:
  • Campurkan seluruh bahan, aduk merata. Lalu masak dengan api sedang hingga mengental dan meletup-letup.
  • Setelah matang, masukkan ke dalam wadah
  • Setelah mengeras dan dingin, simpan ke dalam freezer selama kurang lebih 8 jam agar mengeras.
  • Setelah keras, es gabus pandan siap untuk dinikmati.
Terobati deh rasa kangen saya. Tapiiiii... anak-anak nggak doyan hihihi... aneh katanya. Ya sudahlah, yang makan esnya cuma mantan anak-anak di era 90an aja  ^___^

Komentar

  1. Kak, kok tak taruh freezer dah 24 jam ga keras2 ya? Apanya yang salah?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...