Langsung ke konten utama

Beli Baju Bayi Berapa Banyak?

Waktu hamil Nai, saya membeli pakaian bayi lumayan banyak. Nah, pas adek Khai, saya membeli pakaian bayi nggak terlalu banyak, kecuali popok. Bukan apa-apa, belajar dari pengalaman Nai dulu, ntar dapet kado pakaian bayi lumayan banyak hehehe... Tapi ternyata, pas adek Khai ini, saya jadi nemu alasan yang lebih keren. Alasannya adalah karena pertumbuhan setiap bayi itu berbeda.

Maksudnya gimana?. Gini nih, waktu Nai dulu, kenaikan berat badannya per bulan nggak terlalu drastis. Beda dengan adek Khai yang kenaikan berat badannya lumayan drastis. Otomatis, pakaiannya cepet sempit. Bahkan, banyak kado yang berupa pakaian udah keburu sempit, padahal adek Khai belum sempet pake hihihi...

Waktu usia adek Khai 2 bulan, pakaian untuk usia 6 bulan dia udah bisa pake. Pas usia 3 bulan, jumper untuk usia 9 bulan udah muat aja. Emang beda banget dengan Mbaknya Nai dulu. Seru yah rasanya, tiap anak itu punya cerita tersendiri tentang pertumbuhannya. Jadi, saya dan si Abi harus belanja pakaian bayi lagi untuk adek Khai, karena pakaian yang pertama kali dibeli, udah nggak muat lagi.

Sebenarnya berapa banyak sih saya membeli pakaian bayi untuk adek Khai. Saya membeli popok bayi 2 lusin, celana panjang 1 lusin, celana pendek 1 lusin, bedung 1/2 lusin, baju lengan panjang 1/2 lusin, baju lengan pendek 1/2 lusin, dan kaos singlet 1 lusin (Pekanbaru panas, ini sering dipake pas siang hari, bareng celana pendek :D ). Nah, setelah pakaiannya nggak muat lagi, kami membeli baju lengan pendek 1/2 lusin, celana panjang 1 lusin (ada 2 jenis, masing-masing 1/2 lusin), celana pendek 1/2 lusin, dan kaos singlet 1/2 lusin.


Baju baru, dicuci dulu

Itu dulu deh. Untuk ukurannya, sengaja agak gedean, biar nggak cepet sempit hihihi... Yang nggak kalah penting juga, perhatiin bahan pakaiannya yah. Pilih yang nyaman buat bayi, sesuai dengan kondisi kulit bayi dan cuaca di daerah kita. Jangan lupa juga, pakaian barunya dicuci dulu sebelum dipakaikan ke bayi. Trus, belinya dimana dan habisnya berapa? Ini bakal saya bahas lagi di postingan yang lain yaaaaa :)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...