Langsung ke konten utama

Limpang-limpung Ala Ummi


Beberapa hari yang lalu saya bikin pisang karamel. Trus karena stok pisang pemberian kakak ipar tercinta masih ada, kali ini saya nyoba bikin limpang-limpung. Aneh yak namanya. Resepnya saya dapet dari salah satu temen saya di FB. Penampakannya sih seperti goreng pisang biasa, cuma bentuk pemotongan pisangnya aja yang beda. Kalau goreng pisang, biasanya dibelah 2 or 3 tanpa terputus, berbentuk kipas. Kalo limpang-limpung buatan temen saya itu, pisangnya dipotong bulat-bulat kecil.

Oke deh, langsung aja yah bahan dan cara pembuatannya:

Bahan: Pisang 5 buah (dipotong-potong bulat kecil-kecil tidak terlalu tebal), vanili 1 sdt, 1 butir telur, 1 sdm gula pasir, 2 sdm susu, tepung 200gr, keju sesuai selera (diparut halus), garam secukupnya, air secukupnya, minyakgoreng secukupnya (campur margarin juga boleh)

Cara membuatnya: Campur semua bahan, lalu goreng

Ini gambar punya temen saya

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=726539864090876&set=pb.100002046070994.-2207520000.1415372659.&type=3&theater

Nah, Nai kan doyan coklat, jadi dia minta di atas limpang-limpungnya ada taburan coklat. Yah saya parut aja DCC dan rasanyaaaaaa enaaaaaak :D
Pas banget buat sarapan bil ngeteh or ngopi, camilan sore hari or temen begadang ngetik malam hari :D



Komentar

  1. Hihi, tadi aku baru makan pisang goreng. Mumpung ada sisa dibikin begini juga ah. Namanya lucu ya Limpang Limpung, hihihi, baru tau aku :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga baru tahu namanya Mbak, cobain buat deh :)

      Hapus
  2. minumnya sama teh hangat. Enak deh ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneeeeeer... apalagi musim hujan gini yah Mbak :)

      Hapus
  3. waaah enak yaa itu kayanya yang ada taburan coklatnyaa :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...