Langsung ke konten utama

Waspadai Ini Saat Anak Berenang


Mengajak anak berenang atau bermain air di waterboom memang menyenangkan. Anak-anak sangat suka bermain air. Gitu juga dengan Nai. Tapi, Nai baru 1 kali saja ke waterboom. Itu pun karena diajak sama sepupu saya yang punya anak hampir seusia dengan Nai. Begitu juga dengan berenang. Kalau bukan karena program dari sekolah, saya tidak pernah mengajaknya berenang. Alasannya, saat di area seperti kolam renang atau waterboom, banyak pemandangan yang memperlihatkan aurat, belum lagi bercampur baurnya laki-laki dengan perempuan.

Nah, saat jadwal berenang dari sekolah, biasanya diadakan pagi hari. Karena sekolah Nai tidak punya kolam berenang, maka pergi ke kolam berenang umum. Sekolah memilih hari saat air kolam berenang baru diganti. Selain itu, pagi hari tidak ada yang berenang selain anak-anak sekolah Nai yang sudah booking sebelumnya.

Lalu, apa saja yang harus diwaspadai saat anak berenang?
  1. Apabila tidak bisa mendampingi anak saat berenang (tidak harus ikut berenang, melihat dari dekat saja), pastikan kita sebagai orang tua sudah menasihati anak untuk tertib, hati-hati, dan selalu berada di dekat guru pendamping. Bagaimana pun, baik karena kita bekerja atau berhalangan sesuatu, kita tetap harus cerewet ke anak. Biasanya saking gembira, anak-anak bisa bermain di kolam berenang dengan sembarangan. Sedangkan guru pendamping harus mengawasi sekian banyak anak. Jadi, lebih amannya, dampingilah anak saat berada di kolam berenang.
  2. Mengganti pakaian diruang ganti. Ya, mungkin banyak yang merasa sepele dengan hal ini. Ada yang mengganti pakaian anak di area terbuka, bercampur baur antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Sebaiknya, sejak dini anak diajarkan rasa malu. Nai, tidak pernah mau membuka pakaiannya di tempat umum. Jangankan di tempat umum, ditempat tertutup pun dia tidak mau bila bukan umminya yang melakukannya.
  3. Pergunakanlah pakaian berenang yang wajar. Tidak harus menggunakan pakaian berenang yang berkerudung seperti yang dipakai oleh Nai. Tapi sebaiknya jangan hanya memakai celana dalam dan kaos singlet saja. Sekali lagi, untuk membiasakan anak memiliki rasa malu. Sekaligus menjaga anak dari pandangan orang-orang yang punya pemikiran tidak baik.
Hmmmm... memang yah, asyiknya punya kolam berenang sendiri hehehe... tapi nggak semua orang bisa yah. Moga saja ntar ada kolam berenang khusus anak or kolam berenang khusus laki-laki or khusus perempuan, terpisah gitu. Pan, saya juga sebenarnya pengen berang, terakhir berenang pas masih SD hihihi... jadi, kalo ditanya saya bisa berenang atau nggak, saya bakal jawab bisa... berenang gaya batu :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...