Langsung ke konten utama

Bahaya Menjadi Librocubicularist



Saya seorang librocubicularist. Pernah dengar istilah itu?, kalau belum, istilah itu adalah sebutan untuk orang yang suka membaca di tempat tidur. Nah, ayo angkat tangan siapa yang samaan? hehehe... Kalau ada yang samaan, kita ternyata harus waspada lho, karena ternyata ada bahaya yang mengintai kita. Yap, tentu saja bahaya pada penglihatan, yaitu MATA. Gimana nggak, sebagai ibu rumah tangga yang udah lelah dengan rutinitas seputar domestik, tapi doyan dan kudu baca, karena sebagai seorang penulis juga, membuat saya sering baca sambil tiduran. Rasanya nikmat yah, rebahin badan, trus rileks sambil baca. Duh, sayangnya mata kita malah yang nggak rileks!.

Idealnya, posisi membaca yang tepat itu adalah memposisikan bacaan pada sudut 60 derajat ke arah bawah, dan berjarak sekitar 30 cm dari wajah. Nah lho! posisi rebahan alias tiduran itu nggak sehat banget buat mata. Bikin mata cepat lelah. Akibatnya bisa timbul gangguan lain seperti sakit kepala. Belum lagi, kebiasaan ini bisa ditiru sama anak, padahal nggak baik. Jadi gimana dong?. Tenang, kita tetap bisa jadi librocubicularist yang sehat kok, tapi dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

  • Posisikan diri rebah setengah duduk, dengan bersandar pada bantal. Posisi kepala harus tegak.
  • Gunakan pencahayaan yang bagus
  • Pilih buku dengan font tulisan yang besar dan spasi yang tidak terlalu rapat
  • Setelah membaca, istirahatkan mata dengan melihat objek yang hijau-hijau, seperti tanaman.

Aha! gampang banget ternyata yah. So, kita jaga kesehatan mata kita yah para librocubicularist ^___^

Komentar

  1. Apa tadi istilahnya? :). Saya coba nginget2 kok ya susah sih di lidah dan di inget otak, #faktor U nih. Kalau saya hobinya blogging di atas kasur, karena semua saya lakuin dari hp. Nah itu ada istilahnya juga gak Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha... iya kali faktor U mbak *dicubit Mbak Nurin

      Nah, blogging via HP di atas kasur sambil tiduran itu juga nggak kalah bahaya Mbak, kurleb sama lah. Istilahnya saya belum nemu hihihi... :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Sekarang udah tahu yah Mbak ada istilah ini :)

      Hapus
  3. Aku cobain melisankan langsung istilahnya... hahaha lidahnya ribet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... karena baru tahu itu Mbak. Kalau sering diucapin juga bisa lancar, olahraga lidah Mbak :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...