Langsung ke konten utama

Ibu Rumah Tangga Punya Cerita

Assalamu'alaikum...

Sahabat Ummi... mulai minggu ini, setiap kamis, di blog ini bakal ada ngobrol bareng duo Ummi. Saya dan salah satu rekan duet saya di buku Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita, yaitu Mbak Naqiyyah Syam. Bersama dengan Ummi cantik dan energik yang memiliki 3 orang anak ini, saya akan membahas berbagai hal yang bertemakan tentang pernikahan dan keluarga. Tema berat yah, tapi tenang aja, bakal dibahas dengan santai, tanpa menggurui, karena kami juga dalam proses belajar. So, yuuuk ikutan sharing bareng kami di Ngobrol Bareng Duo Ummi.

Nah, untuk postingan pertama ini, kami sepakat bakal bahas tentang peran kami sebagai seorang Ibu Rumah Tangga. Sebuah pilihan yang kami ambil, dan bukan hendak membandingkan apakah pilihan kami lebih baik dibandingkan dengan pilihan sahabat perempuan lainnya. Sekali lagi, just sharing aja. Nah, sharing dari Mbak Naqi:




-----------------------------------------------------------------------------------------

Siang itu, saya dan sahabat saya yang saat ini tinggal di lain kota tengah ngobrol asyik via handphone. Seperti biasa, bahasannya nggak jauh-jauh dari tentang anak, masak-memasak, cucian, mainan yang berantakan, sampai motif daster hahaha... random banget yah. Bahasan remeh-temeh khas emak-emak banget, tapi bisa bikin kita ngerasa happy. Why? tentu aja itu karena ada perasaan "bahwa kita nggak sendiri" muncul. Hal sederhana yang bisa hadirkan energi baru karena kita saling support.

Saya lebih dulu menikah dibandingkan dia. Saya ingat waktu itu kami belanja bareng, dan saya hendak membeli daster sejuta umat. Dia ngomel, dan nggak bolehin saya. Dia menyarankan kalau saya lebih baik memilih baju rumahan model lain saja, asal bukan daster. Waktu itu saya menurutinya, walaupun sebel. Bisa-bisanya dia mengatur saya seperti itu, padahal suami saya nggak pernah masalahin saya pake daster. Lagipula, dia belum ngerasain gimana nyamannya dasteran saat melakukan pekerjaan domestik hahaha... Baginya, daster itu nggak banget. Tapi, sekarang semua berbalik, dia jadi pecinta daster juga.

Lain hari, saya ngobrol dengan sahabat saya yang lain, lagi-lagi via handphone. Obrolan seru yang makin seru dengan iringan teriakan dan tawa anak-anak kami. Kami sibuk sharing resep yang telah kami uji di dapur masing-masing. Bahasan yang sama sekali nggak banget buat kami dulu saat masih sama-sama menuntut ilmu di bangku pendidikan formal. Masa di mana untuk membedakan antara kunyit, jahe, dan lengkus itu sulit. Yang mana merica dan ketumbar, juga bumbu-bumbu lainnya. Tapi sekarang, dengan mencicipi via ujung sendok saja, kami udah tahu bumbu apa saja yang menjadi racikan masakan tersebut. Nggak cuma itu, ngumpul dan duduk manis sambil cemal cemil dulu sering kami lakukan. Sekarang, ada berbagai camilan yang mampu kami olah sendiri dan sajikan untuk keluarga.





Kalau membahas tentang dulu dan sekarang, tentu banyak banget perbedaannya, ya nggak sih?. Ada hal-hal baru, sesuatu yang bertumbuh. Kita menjadi individu dengan dinamika hidup kita masing-masing. Kita menjalankan berbagai peran sekaligus. Menghadapi berbagai konsekuensi dari pilihan yang telah kita ambil. Kita punya penghayatan masing-masing. Perbedaan terhadap waktu yang kita butuhkan untuk akhirnya bisa nyaman dengan pilihan yang telah diambil. Nggak berhenti sampai di situ, ada siklus lain tentunya, karena hidup itu dinamis.

Di hari lain, seorang teman cerita bagaimana sedihnya ia, saat berbagai kesempatan yang menurutnya sangat bagus, tak bisa ia ambil. Apakah nanti akan ada kesempatan kedua? begitu gumamnya. Padahal bisa jadi, kesempatan yang dia punya saat ini adalah suatu kesempatan yang begitu diharapkan oleh orang lain. Begitulah hidup, yang tampak indah, belum tentu lebih indah dari yang telah ada. Yang mati-matian ingin digenggam, belum tentu genggaman yang bisa dibawa mati.

Sahabat...
Mungkin ada saat kita merenung, kita membayangkan kalau saja kita berada dipilihan yang lain, dan merasa bisa lebih bahagia. Oh... come on... wherever you go, there you are. Fokuskan diri untuk lebih berdamai dengan di mana diri tengah berada saat ini, bukan berpikir sebaiknya berada di mana. Perbaikan itu harus dilakukan, bukan pengingkaran. Terkadang, hanya karena baper plus laper aja itu hihihi... Seperti kutipan berikut ini dari buku La Tahzan:

"Pernahkah kau mendengar bahwa sesungguhnya kesedihan itu dapat mengembalikan kenangan di masa lalu, dan sesungguhnya kegelisahan itu dapat membenarkan kesalahan. Maka dari itu, mengapa kau harus bersedih dan merasa gelisah?.
Hapuslah air matamu, berprasangka baik kepadaNya. Buanglah segala penderitaan dan kesedihanmu dengan mengingat segala nikmat Allah kepadamu."

Fokus untuk melakukan perbaikan diri, menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat saja, sesuai dengan prioritas dan kapasitas diri kita. Lantas, salah jika kita butuh waktu untuk diri kita sendiri? tentu aja nggak, itu penting banget. Saya pribadi, memilih menekuni hobi membaca, menulis, dan fotography. Bergabung di komunitas yang mendukung hobi saya tersebut. Sesekali ngobrol cantik dengan teman-teman, walaupun cuma via handphone aja. Itu cukup, tentu aja nggak, ada sisi spiritualitas yang butuh dicas, lewat pengajian misalnya. Kita hanyalah makhluk yang lemah, mudah goyah. Maka, mutlak untuk menyandarkan diri selalu padaNya.

Sahabat...
Bagaimana dengan dirimu saat ini? sharing yuuuk ^___^







Komentar

  1. Betul ya, perlu banget ibu rumah tangga menjaga kewarasan dengan nyari teman buat ngobrol mengenali hobi dan mencari cara biar happy, hihi.... daster emang adem apalagi buat ibu menyusui hahha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuuup... Penting itu Mbak.

      Daster the best laaah hahaha... :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...