Langsung ke konten utama

Ayam Bumbu Pertama


Kali ini, postingan yang lumayan norak juga. begini ceritanya, Nai itu doyan banget sama ayam bumbu, tapi saya nggak pernah masak ayam bumbu. Alasannya yang memang bener-bener alasan adalah saya nggak pandai membuatnya. Padahal, apa sih yang nggak bisa saya buat, selama nemu resepnya di Mbah Google *nyombong :D

Jangan heran sodara-sodara, karena kemampuan memasak saya masih di bawah rata-rata. Maklum, bermesraan dengan dapur baru pas udah nikah aja *tutup muka pake kulkas :D
Jadi, rasanya prestasi banget pas bisa masak sesuatu, apalagi ayam bumbu. Terlebih, suami ngomporin mulu.

Ternyatah eh ternyatah... saya nggak perlu ngulek bumbu-bumbu buat ngungkep nih ayam, sebelum ayamnya digoreng. Udah ada yang jual di warung, bisa beli seribu atau dua ribuan aja, tergantung jumlah ayam yang akan dimasak. Sumpah, saya baru tahu, ini sungguh sebuah pengetahuan berharga bagi saya di abad inih *halaaaaah

Jadi, saya nggak akan cantumin resepnya, silahkan cari bumbunya di warung-warung terdekat di daerah rumah Anda. Lagipula, ini cuma postingan narsis doang bhuahahaha...

Alhamdulillah... Yes, sekali coba, akhirnya berhasil. Lebih membanggakan lagi, saya berhasil mengalahkan ayam bumbu dari rumah makan Padang langganan kami, dan ayam bumbu Bude katering langganan kami.



Ayamnya diungkep bareng bumbu-bumbu

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...