Langsung ke konten utama

Meneropong Masalah Krusial Dunia Penerbitan

Bruuugh...!!! Saya, suami , dan anak sulung saya Nai, kaget bukan main, sewaktu mendengar bunyi keras di ruang keluarga. Anak saya yang kedua, yang masih bayi juga tak kalah kaget, sehingga dia langsung menangis. Suami langsung memeriksa, ada apakah gerangan?, karena posisi kami saat itu sedang berada di dalam kamar. Ternyata oh ternyata, bunyi keras itu berpusat pada salah satu rak buku kami yang ada di rumah. Salah satu papan penyangganya lepas, akibatnya buku yang ada di papan itu lengser, tapi tidak sampai keluar dari pintu kacanya.

Yessss...! Lho, kok malah senang? hehehe... itu artinya, saya bisa minta rak buku baru lagi kepada suami. Rak buku yang itu tentu sudah nggak kuat menampung buku lebih banyak lagi. Kapasitasnya hanya untuk satu deretan, sementara saya sudah menyusun bukunya sampai dua deretan. Sementara rak buku yang lain juga penuh. Sambil bercanda, suami bilang, "bukan beli rak buku baru Mi, tapi nggak beli buku baru lagi."

Oooooh... tidaaaaak! Itu tidak mungkin! (lebay ala sinetron). Sekali lagi saya katakan, bahwa saya lebih baik nggak beli baju, tas, dan sepatu baru, daripada nggak beli buku baru. Saya tahu suami cuma bercanda, karena dia sendiri juga nggak mungkin bisa untuk nggak beli buku baru walaupun minimalnya dalam sekali sebulan. Kami, keluarga yang cinta buku, cinta membaca, dan cinta menulis.

Rak Buku yang Rusak karena Kelebihan Kapasitas

Kami memang memiliki budget khusus untuk belanja buku. Nah, sebenarnya buku apa saja sih yang kami beli, ada kriteria atau pertimbangan khusus nggak?, oh tentu saja ada. Kalau suami saya, karena dia seorang dosen dan konsultan, dia biasa membeli buku-buku penunjang perkuliahan atau yang berkaitan dengan pekerjaannya. Untuk buku lain, suami menyerahkan sepenuhnya kepada saya, paling dia hanya menyebutkan tema yang ingin dibacanya. Jadi, saya yang lebih banyak memilih buku bacaan. 

Sebelum berangkat ke toko buku, biasanya saya sudah merencanakan buku apa yang akan saya beli. Mulai dari jenis buku, fiksi atau non fiksikah, sampai tema, dan penulisnya. Saya jabarkan satu per satu yaaaa... :)

Buku Fiksi

Saya jarang sekali membeli buku fiksi, jadi buku fiksi yang saya punya tidak banyak dibandingkan dengan buku non fiksi. Untuk fiksi, seperti novel, biasanya yang menjadi pertimbangan saya untuk membelinya adalah:
  • Penulisnya. Biasanya, saya membeli dengan melihat siapa dulu penulisnya, apakah namanya sudah familiar atau belum. Nah, berhubung saya tergabung di dalam beberapa komunitas menulis yang ada di dunia maya, jadi saya punya banyak referensi di sana. Bahkan, banyak penulis novel yang akhirnya bisa saya kenal langsung. Sedikit banyak, saya jadi tahu genre novelnya, gaya khas penulisannya, dan idealismenya. Asyiknya lagi nih, kalau beli langsung sama penulisnya, bisa dapat diskon dan tanda tangan (pas promo) hehehe...
  • Resensi/review. Sekarang, kita bisa melihat banyak sekali resensi/review buku, baik di website khusus seperti goodreads, maupun website/blog personal para pecinta buku. Itu juga jadi pertimbangan saya dalam membeli buku fiksi. Setidaknya, saya dapat gambaran dari isi bukunya.
Udah, segitu saja untuk buku fiksi alias novel. Bagaimana dengan cover?, blurb/sinopsis?, label best seller?, dan penerbitnya?. Itu tidak menjadi pertimbangan utama saya. Mengapa demikian?, karena dulu saya sering kecele pas beli novel. Ceritanya begini, saya lagi pengen beli novel untuk refreshing. Pas udah di toko buku, saya pilah-pilih novel, yang saya lihat pertama kali tentu cover dan judulnya, lalu membaca blurb/sinopsisnya. Saat menemukan yang saya rasa cocok, saya langsung memboyongnya ke kasir. Tapi sesampainya di rumah, setelah saya membaca ceritanya, saya sungguh kecewa karena novel tersebut sangat jauh dari ekspektasi saya. Padahal judulnya keren, covernya apik, blurb/sinopsisnya manis, bahkan ada label pemenang dari sebuah lomba novel yang diadakan oleh penerbitnya. Sama sekali tidak terdapat hal yang mencurigakan.

Eh ternyata ada muatan-muatan negatif di novel itu dan sangat minim pesan moralnya. Bahkan, di novel tersebut menceritakan bayak sekali penyimpangan seperti, kisah tokohnya yang gay/lesbian, kebiasaan seks bebas, bunuh diri, dll. Widiiiiih... saya merinding membacanya. Padahal, pecinta novel itu banyak sekali dari kalangan pelajar. Itu tentu saja bisa merusak mental dan pikiran mereka, setidaknya akan ada anggapan bahwa penyimpangan-penyimpangan tersebut sudah menjadi hal yang biasa, parahnya kalau ada yang sampai terinspirasi dari novel tersebut.

Sejak itu, saya kapok!. Saya tidak mau memiliki koleksi buku bacaan yang ada penyimpangan seperti itu, karena saya tidak ingin anak-anak saya kelak ketika sudah bisa membaca, ia membaca buku-buku yang menurut saya tidak layak. Terlebih buku koleksi Umminya sendiri. Jadi, buku tersebut saya berikan kepada teman saya di luar kota, yang penasaran dengan cerita novel tersebut.

Baiklah, itu tadi sepintas tentang pengalaman saya saat membeli buku fiksi. Bagaimana dengan buku non fiksi?. Biasanya, saya membeli buku non fiksi berdasarkan kebutuhan, baik kebutuhan akan pengetahuan yang dapat saya aplikasikan sehari-hari, maupun kebutuhan akan referensi bacaan sebagai bahan bakar saya untuk menulis. Berikut pertimbangannya:
  • Penulis. Tetap menjadi hal yang utama buat saya, karena ada penulis yang memiliki brand tertentu, misalnya penulis buku parenting, penulis buku agama, penulis buku motivasi, penulis buku resep, dll.
  • Isi buku. Berbeda dengan buku fiksi yang sampulnya tidak boleh dibuka, untuk buku non fiksi, disediakan buku yang sampulnya sudah dibuka. Jadi, saya bisa bebas untuk melihat isinya. Pertama-tama, saya akan melihat daftar isi buku tersebut apakah sudah sesuai dengan yang saya butuhkan, kemudian baru melihat beberapa halaman untuk mengetahui bagaimana font dan spasinya apakah nyaman saat dibaca, dan melihat gaya penulisannya.
  • Penerbit. Kenapa penerbit?, ini lebih kepada pengalaman membaca saya saja. Saya sudah mengetahui bagaimana ciri khas/kriteria buku yang diterbitkan oleh beberapa penerbit.
Udah, cuma itu saja. Untuk cover, tidak menjadi pertimbangan utama saya. Blurb/sinopsis juga tidak begitu penting karena buku tersebut dapat langsung saya buka dan baca. Mengenai harga? tidak masalah selama itu masih bisa saya jangkau, kalau budgetnya nggak cukup yah nabung dulu :)

Nah, kalau ditanya bagaimana pendapat saya tentang masalah yang paling krusial dalam dunia penerbitan buku di Indonesia, menurut saya adalah organisasi yang membawahi penerbitan, penerbit, buku yang diterbitkan, dan masyarakat Indonesia. Lha, semuanya? iya, semuanya. Karena komponen-komponen tersebut tidak bisa dipisahkan. Organisasi yang membawahi penerbitan menurut saya harus memiliki idealisme, berperan aktif dalam membina penerbit-penerbit yang menjadi anggotanya, menjadi regulator. Demikian juga dengan penerbit-penerbit, hendaknya memiliki idealisme tak sekedar bisnis semata, sehingga bisa menerbitkan buku-buku yang berkualitas, yang dapat mengedukasi pembacanya secara positif, sehingga benar-benar berperan dalam mencerdaskan bangsa.

Lalu kenapa dengan masyarakat Indonesia?, ini berhubungan dengan budaya baca tulis masyarakat Indonesia yang masih rendah. Contohnya saja, di perumahan tempat tinggal saya, hanya ada dua rumah yang empunya memiliki rak buku. Tentu saja bukan rak buku pelajaran sekolah punya anak-anaknya yang saya maksud. Rumah itu adalah rumah saya, dan rumah ketua RT (Rukun Tetangga) yang merupakan seorang pengajar dan lulusan Al-Azhar Mesir.

Saat membicarakan tentang buku, beberapa berkilah dengan mengatakan bahwa harga buku mahal-mahal, lebih baik membeli buku pelajaran untuk anak-anak saja. Ada juga yang bilang tidak perlu lagi baca-baca buku karena udah nggak dalam masa pendidikan. Lebih sengit lagi, nggak sempat buat baca-baca buku, pekerjaan dan urusan rumah tangga sudah sangat menyita waktu. Padahal, mereka rata-rata dari kalangan menengah ke atas. Bagaimana anak-anak akan mencintai baca tulis bila tak ada teladan, dan bagaimana bisa pengetahuan semakin bertambah tanpa buku, yang merupakan jendela dunia. Lewat televisi? Internet?, bisa jadi asal tak banyak digunakan untuk menonton sinetron atau ber ha ha hi hi... berselancar ria di sosial media. Tapi, menurut saya, tetap bukulah sumber yang terbaik.

Jadi, bisa dibayangkan bahwa tidak ada yang tertarik untuk meminjam buku kepada saya, sekalipun rak buku besar ada di ruang tamu kami. Itu baru di sekitar saya, belum lagi di daerah lain. Bagaimana dengan di daerahmu?

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #PameranbukuBdg2014 bersama IKAPI JABAR dan Syaamil Quran.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersama Anak Liburan Dadakan Tapi Berkesan

Apa jadinya kalau keluarga yang jarang liburan, pas mau liburan eh si anak demam. Duh... Susah buat diungkapin kan yah. Ada sedih, bingung, kesel, nyesel, dll. Semua bayangan tentang liburan indah mendadak buram, karena liburan terancam batal. Padahal, liburannya udah dinanti-nanti banget. Yah, begitulah kira-kira yang saya rasakan pas mau liburan, eh adek khai demam. Pengaruhnya nggak cuma ke saya atau si Abi, tapi juga Mbak Nai. Sedih adeknya sakit, dan sedih juga kalau liburannya jadi batal. Habisnya, Mbak Nai udah bayangin gimana serunya liburan nanti, trus bakal diceritakan ke teman-teman di sekolahnya. Begitulah... Kami sekeluarga nggak pernah menyiapkan waktu khusus untuk liburan. Jadi, yang namanya liburan itu bisa dadakan aja atau pas sekalian ada moment tertentu, seperti undangan pernikahan dari luar kota. Jadi, bisa dibilang liburannya nggak jauh-jauh juga, bisa di seputar Riau aja, seperti ke Siak atau luar kota seperti ke Sumatera Barat. Transportasi yan...

Grow n Health Madu Pertumbuhan dan Kecerdasan Anak

Di rumah, kami selalu menyediakan madu. Madu juga dijadikan sebagai pengganti gula. Nggak hanya sehat, rasanya juga lebih nikmat. Saya pribadi, campuram madu dengan perasan jeruk nipis dan air hangat merupakan minuman pembuka hari. Sungguh luar biasa manfaat dari madu ini, nggak hanya buat kesehatan tapi juga kecantikan lho, karena bisa dijadikan masker juga. Kalau kita googling nih, bakal menemukan banyak banget manfaat dari mengkonsumsi madu, baik madu murni amupun dikombinasikan dengan herbal lainnya, manfaatnya seperti: sebagai sumber energi karena bisa menambah stamina, menjaga fungsi saluran cerna, membantu menurunkan kolesterol serta mengingkatkan HDL (kolesterol baik), melawan anemia, dll. Jadi, keluarga saya sudah sangat akrab dengan madu. Untuk saya dan suami, kami biasa mengkonsumsi madu murni tanpa campuran. Tapi untuk anak-anak, kami memberikan madu yang dikombinasikan dengan herbal bermanfaat lainnya. Tujuannya, agar semakin banyak manfaat yang didapat. Apalagi n...

Me Time Mandi Parfume dengan Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

Bismillahirrahmairrahim Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Ummi... Sejak menjadi seorang Ummi, alias perempuan yang sudah punya anak, ada satu aktivitas yang menjadi sebuah kemewahan tersendiri buat saya. Yaitu, mandi. Hah, serius? Serius lho. Mandi itu bisa jadi sebuah me time . Nggak harus berlama-lama di dalam kamar mandi, karena kadang tak seindah ekspektasi. Sejak menjadi seorang Ibu, biasanya kita mulai begitu ahli bagaimana melakukan mandi secepat kilat. Sebelum bocah menggedor kamar mandi sambil nangis karena kehilangan Ibunya, walaupun baru nggak kelihatan 3 menit :D Baiklah, nikmati saja masa-masa itu, karena nggak bakal lama. Suatu saat nanti bisa jadi kita bakal merindukannya. Nah, bagaimana bisa tetap mandi kilat tapi kitanya jadi bersih dan wangi juga happy ?, tentu saja semua berhubungan dengan sabun mandi yang kita gunakan. Of course , penting sekali memilih sabun mandi yang tepat. Setidaknya kriteria pemilihan sabun mandi ...