Langsung ke konten utama

Sambal Terasi Sedaaaap...

Emang benar, jika ada ungkapan bahwa orang Indonesia nggak bisa makan tanpa sambal. Hal ini terbukti dari aneka kuliner nusantara, yang nggak terlepas dengan sajian sambalnya. Ikan bakar, ayam bakar, ikan goreng, ayam goreng, aneka seafood, ikan asin, bahkan hanya sekedar untuk makan tahu dan tempe saja, rasanya lebih nikmat dengan didampingi sambal, bener nggak?

Apalagi saya, paling doyan sama sambal. Nah, sebelumnya kan udah posting ayam bumbu nih. Untuk nemenin tu ayam, tinggal buat sambal terasi deh. Trus, sayurnya sayur bayam merah, ajiiiiib. Untuk sambal terasi, siapa hayooo yang nggak doyan. Sepertinya jarang yah, di sini, di Pekanbaru, sambal terasi itu bisa dibilang primadona. Hampir sajian sambal dari menu-menu masakan, ada terasinya. Bahan dan cara membuatnya juga gampang.

Bahannya terdiri dari cabe merah, cabe rawit (buat yang doyan pedes banget), bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, garam, gula merah. Takarannya, tergantung selera dan porsi yang akan dibuat. Cara membuatnya gampang banget. Cabe, duo bawang, tomat, dan terasi digoreng sebentar. Setelah layu, angkat, tiriskan. Trus tinggal diulek deh, ditambahkan garam dan gula merah secukupnya. Biar tambah seger, tambahkan juga dengan perasan air jeruk nipis. Sedaaaaap... pedes, seger, sangat menggugah selera makan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...