Langsung ke konten utama

Serunya Hari Pertama Khai MPASI

 Khai sedang makan

Setiap anak itu unik. Setiap anak punya cerita. Tak ada habisnya kalau membahas tentang seorang anak, terlebih mengenai tumbuh kembangnya. Ada bahagia, harap-harap cemas, khawatir, atau hanya sekedar tanda tanya, saat mendampingi tumbuh kembang sang buah hati. Seperti halnya saya, walaupun Khai anak yang kedua, tapi sebagai seorang ibu, saya merasa kembali harus banyak belajar. Apalagi jarak usia Khai dengan Mbaknya Nai terpaut 5 tahun, jadi lumayan udah banyak yang lupa hihihi...


Mbak Nai dan adek Khai

Saat Nai dulu, ibarat sebuah laboratorium, Nai adalah percobaannya. Ya, percobaan dalam segala hal, seperti pola asuh, makanan, mainan, dll. Layaknya orang tua baru, saya dan si Abi tentu ingin memberikan yang terbaik. Kami berusaha update informasi seputar tumbuh kembang anak, baik dari buku, web, atau berkonsultasi langsung dengan dokter anak dan pakar gizi. Nah, saat adek Khai, setidaknya udah nggak terlalu kagok.

Seperti saat ini, usia adek Khai sudah saatnya untuk MPASI. Hebohnya udah seminggu sebelum waktunya adek Khai makan. Mulai dari belanja perlengkapan MPASI, sampai menyusun menunya. Tak kalah heboh adalah Mbaknya, Nai. Nai sangat tidak sabar untuk melihat adeknya makan, hmmm... bukan melihat sih, lebih tepatnya pengen nyuapin adeknya makan. Jadi, jauh-jauh hari dia udah bilang ke Ummi untuk dibolehkan menyuapi si adek.

Perlengkapan MPASI adek Khai

Saatnya tiba, sudah waktunya adek Khai makan. Peralatan MPASI sudah dibersihkan, menu untuk 2 minggu pertamanya sudah disusun. Adek Khai sendiri juga udah sangat antusias, terlihat dengan begitu bahagianya dia saat melihat mangkuk makan mungil dan sendok cantik bergagang warna kuning. Seolah-olah dia mengerti kalau itu memang untuknya. Biasanya, adek Khai cuma nonton Ummi, Abi, dan Mbak Nai makan. Lucunya, banyak yang tidak percaya bahwa adek Khai belum diberi makan, selain ASI saja. Itu karena adek Khai terlihat montok, diusianya yang 6 bulan, berat badannya sudah mencapai 9 kg.

 MPASI adek Khai, puree buah

Daaaaaan... MPASI pertama adek Khai, tidak semulus yang dibayangkan. Bukan karena adek Khai menolak untuk makan, melainkan tentang Mbaknya Nai. Nai ngotot untuk terus nyuapin adeknya, walaupun saya sudah mengizinkannya untuk menyuapi 1 kali. Jelas nggak boleh dong, apalagi adeknya baru pertama kali, menyuapi juga nggak sembarangan. Nai pikir sama seperti nyuapin boneka mainannya. Alhasil, Nai nangis kenceng dan ngambek. Jadinya, hari pertama Khai MPASI ditemeni dengan suara tangisan Mbaknya. Tapi tetep seruuuuu... kapan lagi ada moment seperti ini ^_^

Alhamdulillah... Khai makannya lahab, ludeeeees... dan dia seneng banget. Sedangkan Mbaknya Nai, dengan rayuan maut si Abi, tangisannya juga ikut mereda, hmmmmm... saya penasaran, itu anak disogok pakai apa yah :D

Komentar

  1. Mbak Nai antusias banget saking sayang sm adek Khai itu Ummi... jd pingin nyuapin terus...hehe
    Pasti heboh dan menyenangkan sekali ya mak...
    Terimakasih sdh berbagi cerita utk meramaikan GA sy ya mak...
    Titip uyel-uyel utk adek Khai, dan cium manis utk Mbak Nai...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa Mak, jadinya heboh banget, nangisnya juga mendayu-dayu gitu hihihi...
      Masama Mak
      Okeeee... Adek Khai udah diuyel-uyel, Mbak Nai juga udah dicium manis :))

      Hapus
  2. Pasti seru ya setiap ada moment pertama :) Semoga tumbuh jadi anak yang sehat dan sayang keluarga, ya. Amen.. :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...