Langsung ke konten utama

Pawai TK Nai

Dokter Spesialis anak yang hafizah, aamiin...

Setelah ikutan pawai akbar di tempat ngajinya beberapa hari yang lalu, sekarang Nai ikutan pawai dari sekolahnya. Pawainya pakai kostum dong yah, dan Nai dikasih pilihan mau pakai kostum apa. Mau pake baju adat or profesi. Akhirnya, atas kesepakatan bersama, Nai pakai baju profesi. Nah, pas ditanya mau pake baju profesi apa, Nai sempet bingung juga. Pengennya sih yang sesuai dengan cita-citanya. Tapi anak seusia ini, masih labil banget dengan urusan cita-cita, alias suka berubah-ubah :D

Cita-cita terakhirnya jadi hafizah dan seorang astronot. sayangnya, nggak ada kostum astronot. Adanya cuma kostum dokter, perawat, polisi, dan polwan. Yah akhirnya, balik ke cita-cita sebelumnya, menjadi seorang hafizah dan dokter spesialis anak :D

Trus, sayang banget kostumnya nggak oke kalo buat pake kerudung, daaaan lebih sayang lagi temen-temen Nai pada nggak pake kerudung *padahal sekolah islam :(
Jadi, saya akali deh. Nai pake gamis, luarnya baru pake jas ala dokter. Trus, karna semua anak-anak pada di make up, jadilah Nai kanvas lukis Umminya :D
Pake peralatan perang apa adanya, Nai saya make up tipis ajah. Gimana hasilnya, oke nggak? :D


Semangaaaaat

Pas pawai, kali ini Ummi yang bakal ikutan keliling bareng Nai. Sementara si Abi, nungguin di lokasi acara bareng adek Khai. Daaaan ternyatah, capeeeeeeek pemirsah! :D
Bukan anaknya yang tepar, tapi emaknya hahaha... ketahuan banget udah lama nggak jalan kaki jauh or muter-muter di area Masjid Agung An-Nur XD



Perhatikan deh foto di bawah, itu cuma Nai yang pegangan sama Umminya, biar Umminya nggak jatoh :D
Trus, udah agak panas kan haus, sayangnya air yang dibawa cuma buat Nai. Rada tengsin juga minum dari botol pink bergammbar unyu-unyu ituh :D
Ya udahlah, tahan aja. Ntar minumnya skalian dengan bakso deh *modus





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...