Langsung ke konten utama

Ibu Mertua, Saya, dan Ayam

Postingan ini dalam rangka ikutan #K3BKartinian yang temanya adalah Ibu Mertuaku.




Nah, ngomongin ibu mertua, ada beberapa temen yang sering curhat kalo saya tuh beruntung banget udah nggak ada ibu mertua. What! beruntung??? Yah gitu deh, harap maklum aja. Konflik antara menantu dan mertua udah jadi rahasia umum, baik yang tersembunyi di dalam hati, maupun yang udah perang secara terbuka. Emmmm... tapi banyak juga kok menantu dan mertua yang adem ayem, rukuuuun banget, seperti anak dan ibu kandung.

Sejatinya, hubungan antara menantu perempuan dan ibu mertua haruslah sangat baik, Bagaimana pun, ibu mertua adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkan suami kita, imam dalam rumah tangga kita, dan ayah dari anak-anak kita. Tapi, di kehidupan nyata, memang tak sedikit pergesekan yang terjadi. Tinggal bagaimana kita bisa membawa diri aja.

Hubungan saya dan ibu mertua, Alhamdulillah sangat baik. Ibu mertua saya meninggal saat saya tengah hamil Nai, diusia kehamilan 8 bulan. Sedih... ibuk nggak sempet ngelihat cucu dari anak bungsunya. Penyakit diabetes yang dideritanya selama kurang lebih 3 tahun, telah menimbulkan banyak komplikasi.

Sebagai seorang anak bungsu, suami saya begitu dekat dengan ibunya. Daaaan... kadang sering bikin cemburu hehehe... Trus, peristiwa yang paling saya ingat adalah sewaktu saya diminta ibuk untuk membersihkan ayam, karena hendak diolah menjadi ayam balado, saya kebingungan tiada tara. Bingung? Iyah bingung, karena saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya nggak tahu gimana cara memotong ayam-ayam itu menjadi beberapa bagian, dan apa yang harus dibersihkan. Sumpaaaaah... saya bingung bangeeet. Sampe-sampe nih yah saya lamaaa banget, trus dipanggilin. Hahaha... gaswaaaat! Terlaluh nggak tuh :D

Harap maklum pemirsah, saya nggak pandai masak. Biasanya di dapur cuma kebagian nyuci piring aja, itu juga kalau belum dikerjain sama bude yang biasa bantu-bantu di rumah. Akhirnya, ayam-ayam itu cuma saya cuci aja, daaaan ibuk mengulang kembali mencucinya XD

Tapi sekarang, jangan ditanya deh, saya udah jauh lebih keren. Nggak cuma motong-motong or nyuci ayam. Si ayam bisa saya oleh menjadi beberapa jenis masakan, seperti rendang, semur, opor, garang asem, tumis, ayam bumbu, ayam balado, ayam mentega, penyet, panggang, dan sop. Nah lo! beneran keren kan saya, hahaha...

Hiks... jadi kangeeeen deh sama ibuk. Perempuan sunda yang cantik, berkulit putih bersih dan sangat lembut tutur katanya. Kelembutannya mengalir ke lelaki yang menjadi sisian keseharian saya. Semoga Allah lapangkan kuburnya, terima amal kebaikannya dan diampuni dosa-dosanya. Aamiin...



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...