Langsung ke konten utama

(Fiksi Mini) Sungai Siak




Katamu, cintamu padaku sedalam sungai siak. Baiklah, aku akan coba mengukurnya sambil membawa undangan pernikahan merah hati bertuliskan namamu dan namanya.







Andi bilang ayahnya baru membuat waterboom. Ternyata Cuma genangan air sungai siak yang meluap.








Bukan pisang atau jagung bakar. Aku hanya mencari lipstikku yang tertinggal saat tubuhku diseret paksa, masuk ke sebuah mobil.







Kenapa harus lewat sini, aku tak suka mencium parfummu yang mendadak berubah bau.







Aku menghabiskan segelas air itu. Tak lama kakakku heboh karena kehilangan sample penelitiannya.











Gambar pinjem dari sini


Komentar

  1. Waah apa kabar sungai Siak. Kangeen. Kapan ya bisa ke Pekanbaru lagi.

    BalasHapus
  2. hemm ... hemm ... *saya sedang mencoba memahami maksud dari setiap kalimatnya. Intinya tentang Sungai Siak kan ya?

    BalasHapus
  3. Sungai siak udah "cantik" Mbak Niar. Asyik deh duduk-duduk di pinggir sana sambil makan jagung atau pisang bakar.


    Yuuuuk main ke Pekanbaru ^_^

    BalasHapus
  4. Yup, ini tentang sungai siak Mbak Nurin
    ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...