Langsung ke konten utama

Dengan Mengingat-Mu Hati Menjadi Tenang



Beruntunglah bila hati mengenal Allah
Beruntunglah bila diri merindu Allah
Beruntunglah bila jiwa berharap Allah
Beruntunglah cita-cita hanyalah Allah
(Lirik Lagu Opick, Beruntunglah)

Seorang anak perempuan mendatangi ibunya. Ia bertanya tentang dimana Allah, saat satu persatu kebahagiaannya hilang. Mengapa Allah membiarkan hal tersebut terjadi padanya. Sambil tersenyum, ibunya berkata bahwa Allah ada bersamanya, disaat dia merasa satu persatu kebahagiaannya hilang. Lalu, ibu tersebut balik bertanya, apakah anak perempuannya tersebut menanyakan dimana Allah saat kebahagiaannya berlimpah. Anak perempuan tersebut terdiam, dan ia menggelengkan kepalanya.

Siapakah anak perempuan tersebut? Bisa jadi ia adalah kita. Coba kita ingat-ingat kembali, berapa banyak kita mempertanyakan dimana Allah saat kita mengalami berbagai macam cobaan hidup, kita selalu berkata mengapa hal tersebut harus terjadi pada diri kita. Namun, saat kita dikaruniai berbagai nikmat di dalam hidup, kita tidak sekalipun bertanya dimana Allah, bertanya mengapa hal tersebut terjadi pada diri kita.

Ada seorang tukang menempa logam, bernama imam Ibrahim bin Maimun ash-Sha-igh. Saat beliau mendengar suara seruan azan shalat, meskipun ia tengah mengangkat palu, namun ia tidak mampu mengayunkan palu tersebut, ia malah menghentikan pekerjaannya dan bergegas pergi untuk menunaikan shalat.

Begitu besar kecintaannya kepada Allah, ibarat seorang kekasih yang bersegera datang untuk menemui panggilan kekasihnya. Ia selalu mengingat bagaimana cinta Allah kepadanya, apa saja yang telah Allah berikan dalam hari-harinya. Lalu, bagaimana dengan kita?, kita seringkali lalai terhadap panggilan-Nya, mendahulukan berbagai kepentingan dunia, bahkan tergesa-gesa saat bersimpuh di hadapan-Nya.

Saat kita berada dalam kesulitan, merasakan kegalauan, himpitan perasaan, dan berbagai keluh kesah lainnya, terkadang dengan sombongnya kita berlari kepada manusia, meminta pertolongan. Setelah lelah karena tak kunjung mendapatkan kebahagiaan atau keluar dari sebuah masalah, kita lalu hanya bertanya dimana Allah, mengapa Ia membiarkan hal tersebut terjadi pada diri kita. Kita tidak sadar, bahwa sejak awal Allah tengah menyatakan cinta-Nya kepada kita, berharap bahwa kita akan berlari kepada-Nya, memohon jalan keluar dari yang Maha Pemberi. Bukan malah disalahkan atas apa yang terjadi pada hidup kita.

Sungguh beruntungnya orang-orang yang tidak disibukkan dan dilalaikan oleh dunia. Hanya ada Allah di dalam jiwanya. Mereka yakin bahwa meraih cinta Allah dengan mendekatkan diri pada-Nya, lebih baik dan lebih utama.


“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang paling depan dalam menghadap kepada-Mu, dan orang yang paling dekat dalam mendekatkan diri kepada-Mu.” (kitab Al-Mughni)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...