Langsung ke konten utama

Cinta di atas Cinta

Dalam perspektif seorang muslim, cinta pada Allah dan RasulNya di atas segalanya. Para sahabat adalah contoh sosok pecinta terbaik. Mereka mencinta bukan hanya dalam seujar kalimat, tapi mengalir dalam kepatuhan dan ketakwaan. Nah, bagaimana dengan kita? Sungguh amat sangat maluuu rasanya saat mendapati diri ini masih lebih mencintai apa-apa dibandingkan cinta pada Allah dan Rasulullah.

Buktinya, kita lebih cinta kepada manusia, materi, dan segala macam hal yang berkaitan dengan duniawi, tanpa berlandaskan cinta kepadaNya. Padahal, cinta Allah adalah tiket untuk menuju surgaNya, yang tak mungkin teraih tanpa adanya upaya dan pengorbanan. Ya, bukankah saat kita mencintai, kita pasti akan berusaha dan rela untuk mengorbankan apa saja demi yang kita cinta. Lalu, mengapa kita lebih giat berusaha dan lebih rela berkorban untuk manusia, menggapai materi, atau memuaskan ambisi-ambisi dibandingkan berusaha dan berkorban untuk meraih cinta Sang pemilik segala yang ada di dunia, yaitu Allah SWT.

Tiada yang cintanya bisa melebihi cinta Allah kepada hambaNya. Siapa yang akan tetap memaafkan saat kita berulangkali melakukan kesalahan?, siapa yang tetap memberikan kesempatan saat kita maksiat, lalai shalat, dan enggan menutup aurat?, siapa yang bisa bersabar saat segala hutang belum terbayar?. Ah, tak ada yang sanggup untuk menghitung banyaknya kebaikan, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.

Astaghfirullah... ampuni kami Ya Rabb...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...