Langsung ke konten utama

Bertemu Nabi Muhammad Saw

Khayalan atau disebut juga dengan angan-angan. Siapa yang tidak pernah berkhayal, baik menghayalkan hal yang logis maupun yang tidak logis. 

Berbicara tentang khayalan, saya jadi ingat hadist berikut:

Anas ra berkata, “Nabi membuat garis seraya bersabda, ‘Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika dia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari ‘garisnya yang paling dekat’ adalah ajal kematiannya.” (HR. Bukhari)

Nah, hadist tersebut mengingatkan kita untuk tidak menghabiskan waktu dengan berkhayal atau berangan-angan, sesuatu yang tidak mendekatkan kita pada amalan-amalan untuk bekal dalam menghadapi kematian yang bisa datang tiba-tiba.

Khayalan yang membuat kita menjadi sering mengucap "seandainya" "andai saja" "kalau saja" dan lain sebagainya, baik cerminan dari rasa penyesalan akan masa yang telah lewat, maupun bentuk tidak adanya rasa syukur dan ridho atas apa yang telah Allah Swt berikan. Sayangnya, tidak diikuti dengan usaha untuk memperbaiki diri atau meminta ampunan.

Tapi temans... semua itu berproses. Ada suatu masa, dimana kita mulai mengerti bagaimana menerima gunungan kenyataan pahit itu lebih berharga daripada sepotong khayalan atau angan-angan indah. Nah, bukannya tidak pernah berkhayal atau berangan-angan. Dahulu, saya juga melakukannya. Tapi kini, saya lebih suka memiliki impian, sesuatu yang ingin kita raih dengan usaha-usaha tertentu. Saya bermimpi kelak saya bisa bertemu dengan nabi Muhammad Saw, bisa menatapnya setiap saat. Uswatun hasanah yang hanya pantas dijadikan satu-satunya idola. Duuuuuuh... gemeteran saya ngetiknya, mata mendadak mengembun, haruuuuu, rindu.... sekali pada Rasulullah. Apakah saya bisa memantaskan diri agar impian saya tersebut tercapai. Tapi temans, hanya Allah Swt yang mengetahui seberapa pantaskah, sebagai manusia kita hanya berdoa dan berusaha.

Allahumma Solli 'Ala Sayyidina Muhammad... 




“Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”




Komentar

  1. hmm, antara senang dan sedih ketika nanti bisa bertemu beliau ya mba. apa bisa seperti yang beliau harapkan, menjadi umat terbaik akhir zaman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa...Mbak Ila. Jadi, selalu berusaha untuk memperbaiki diri :)

      Hapus
  2. Sungguh mulia sekali khayalan mbak Oci. semoga kita semua bertemu di jannah-Nya kelak dan bisa bertemu dengan Rosul ;)
    Sukses untuk GA-nya mbak

    BalasHapus
  3. Aamiin Ya Rabb... Makasih Mbak Eky :)

    BalasHapus
  4. Mbak, makasih udah ikutan, tp tolong daftar lagi di LAMAN PESERTA GA saja ya.. supaya saya mudah ngecek pesertanya.. :)

    Oiya, aku pernah juga berkhayal ingin bertemu Rasul, andai aku hidup di zaman Rosul, hehe..
    mungkin aku gak kenal kali ya ma mbak Oci.. hhihi

    terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, Ok Mbak Noorma, maaf kalau kelupaan, kirain di laman pengumumannya :)

      Wah, sama yah kita :)

      Hapus
  5. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad...
    Rindu kami padamu ya Rasul..
    #sukses GA ny mba :)

    BalasHapus
  6. Impian yang harus di miliki oleh eseorang muslim..

    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Salam kenal juga, makasih udah mampir :)

      Hapus
  7. Nyes banget khayalannya Oci, maluuu deh malah ga kepikiran kayak Oci

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...