Langsung ke konten utama

Sebelum 30 Tahun

Saat ini, usia saya 27 Tahun. Bila Allah Swt masih memberikan saya usia, maka 3 tahun lagi saya akan menginjak usia 30. Selama 27 tahun saya hidup di dunia ini, banyak hal yang sudah saya lewati. Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih percaya bahwa Allah Swt selalu memberikan yang terbaik untuk saya, semoga demikian seterusnya. Bagaimanapun, hidup ini hanyalah pergiliran tempat berpijak, yang memungkinkan posisi kita untuk berada di atas dan juga di bawah. Bahkan saya sudah merasakan bagaimana begitu cepatnya perpindahan itu terjadi.

Jika berbicara tentang pencapaian, banyak hal yang tak mampu saya urai. Begitu banyaknya nikmat Allah Swt, apapun itu termasuk kemudahan-kemudahan yang terjadi di dalam hidup saya. Saya bersyukur karena Allah memberikan kemudahan bagi saya dalam menuntut ilmu. Memberikan kesempatan saya untuk mengecap pendidikan S2. Allah juga membuat saya sempat merasakan bagaimana rasanya memiliki jabatan sebagai Direktur Utama sebuah perusahaan di usia saya yang ke 19 tahun. Lalu, yang menakjubkan adalah Allah memberikan saya kesempatan untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. Tak hanya itu, satu-persatu list dalam proposal hidup saya di acc oleh Allah, yang salah satunya adalah menulis buku.

Lantas, apakah tak pernah ada kesulitan dalam hidup saya? Ah yang benar saja. Setiap kita pasti diuji, demikian juga saya. Di awal tadi, saya sudah katakan bahwa saya sudah merasakan bagaimana cepatnya perpindahan posisi, dari atas ke bawah. Tapi Allah Swt tetap Maha Baik, karena Ia tetap memberikan saya nikmat berupa rasa syukur dan ikhlas, ridha atas apapun ketentuanNya. Bukan malah berbalik menyalahkan Allah atas segala "penderitaan" yang pernah saya rasa. Nikmat yang lebih berharga dibandingkan apapun juga. Nikmat yang membuat saya semakin mendekatkan diri padaNya.

Maka, ketika ditanya apa saja yang ingin saya capai diusia saya yang ke 30 tahun nanti, mungkin kuliah S3 tak lagi menjadi prioritas, tak muluk-muluk, saya ingin Allah Swt ridha kepada saya, tetap memberikan saya nikmat dalam iman (islam). Intinya lebih kepada peningkatan kualitas rohani, menjauhkan saya dari penyakit wahn (cinta dunia, takut mati). Bagaimanapun, kita tak pernah tahu sampai kapan kita masih diberi kesempatan untuk hidup.

Allah Swt sudah memberikan saya kesempatan untuk merasakan hal-hal yang mungkin masih berada di dalam angan-angan orang lain. Allah Swt sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakam hal-hal yang mungkin bagi orang lain untuk sekedar memikirnya saja tidak mau. Semuanya bermuara pada pelajaran berharga yang tak akan pernah saya temui di bangku sekolahan atau perkuliahan. Semuanya menempa saya menjadi pribadi yang Insya Allah lebih baik lagi. Menyadari bahwa setiap kita diuji dan tidak ada yang lebih berat antara satu dengan yang lainnya, melainkan telah diukur kadarnya oleh Allah. So, selalu berbaik sangkalah kepada Allah Swt.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Aida.MA



Komentar

  1. Waduh masih muda banget Mbak Oci, saya nikah usia 27 loh. Sebentar lagi malah saya 35 tapi tetap feeling mah 25 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya nikah usia 22 Mbak hehehe...

      mantap deh feeling 25 nyah :D

      Hapus
  2. Oci... Selamat milad.. Ke 27? Aiih dirimu masih muda sekali..dan keren banget, di usia semuda itu sudah banyak prestasi yg dicapai. Alhamdulillah.. Ikut seneng bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miladnya udah lewat 6 bln Mbak :D Makasih Mbak udah mampir :)

      Hapus
  3. usia sama sama 27.
    "Allah Swt selalu memberikan yang terbaik untuk saya, semoga demikian seterusnya" amien

    BalasHapus
  4. emang kita semua diuji ya mba....mba oci memang masih muda...imut2 lagi hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi... imut-imutnya kagak nahan Mbak Aida :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...