Langsung ke konten utama

Bolu Kukus Gula Merah Tanpa Telur dan Mixer

Ditabur keju lebih enaaak

Bikin bolu kukus nggak pakai telur dan di mixer? Emang bisa?. Eh ternyata bisa lho, resep ini saya dapat di grup FB Dapur Aisyah. Trus pertanyaan terpentingnya adalah apakah bolu kukus tersebut bisa mengembang atau kerennya dibilang ketawa?, bisa. Alhamdulillah saya nggak kena kutukan bolu kukus hihihi... yang bisa bikin bolu kukusnya tetep mingkem.
 
Cuma, nggak terlalu ketawa, karena pas ngukus saya lupa nutup tutup kukusan pakai kain. Kalau nggak ditutup kain, uap air bisa jatuh ke adonan kue. Trus, cup yang saya gunakan ukurannya besar, nggak banding dengan cetakannya, pas ngisinya saya juga kurang pas, cuma 1/2 cup, mungkin sebaiknya 1/4 cup.

Nah, penasaran? Yuuuk langsung catet resepnya. Ini saatnya yang nggak punya mixer tetep bisa baking dan yang alergi telur tetep bisa makan bolu kukus.

 Bahan:
  • 1/4 kg gula merah, direbus dengan 150 air + 1 batang kecil kayu manis, saring, dinginkan.
  • 1/4 terigu protein sedang (ayak)
  • 100 ml minyak goreng
  • 1/2 sdt baking powder
  • 1/2 sdt soda kue
Caranya:

Siapkan dandang untuk mengukus, isi air, letakkan di atas kompor dengan api sedang. Campur semua bahan, aduk searah jarum jam sampai rata, tekstur nantinya agak kental. Setelah itu masukkan ke dalam cetakan beralas paper cup, kukus dlm dandang yang sudah beruap banyak, selama 30 menit dengan api besar.

Inget yah, tutup dandangnya dialas dengan kain. Dandang harus sudah kita siapkan terlebih dahulu sebelum membuat adonan.
 

Gampangkan cara membuatnya. Pas dapet resep ini, saya langsung ngajak Nai untuk eksekusi. Udah lama juga kami nggak baking. Mumpung adek Khai tidur. Lagipula membuat bolkus ini cepet banget. Rasanya? Alhamdulillah enak, Nai suka. Nah, untuk yang niat buat dijual, resep ini terbilang mudah dan murah. Silakan dicoba yaaaa :)
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...