Langsung ke konten utama

Bulir-bulir Cinta

Tengkiyuuuu banget buat Mbak Viana Wahyu yang udah kasih saya foto cakep inih. Tapi saya sampai sekarang belum bikin akun IG juga nih. FB, twitter, dan blog aja udah lumayan bikin saya gagal fokus buat nulis buku, apalagi kalau ada IG yak hihihi... makluuuum... masih lemah iman :D


Duluuuuu... sewaktu kecil, saya amat sangat mengagumi buah delima. Buah cantik berwarna merah yang ada di dalam sebuah pot keramik yang besar, di salah satu rumah mewah di daerah tempat tinggal saya. Saking cantiknya, buah itu seperti buah plastik aja. Rasa buahnya? jangan tanya, saya sama sekali belum pernah mencobanya, sampai akhirnya saya dewasa. Ternyataaaaa... buah ini tuh enaaaak banget.

Nah, kalau di pasar buah sini, harga per kg bisa menyentuh 156ribu rupiah, itu delima merah impor asli mesir. Kalau yang lokal, alias yang ditanam oleh orang Pekanbaru, aseeeeeem... dari jenis delima putih. Naaaaah... mari kita budayakan tanaman cantik yang kaya manfaat bagi kesehatan ini. Jangan sampe keburu punah. Penasaran apa manfaat dan cara pembudidayaannya, sila beli bukunya yak :) *modus promosi

Komentar

  1. @_@
    aku punya tanamannya tapi yang putih..
    Tapi khasiatnya apa??
    *nggk mw basah[eh] kejebak
    @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buaaaanyaaak khasiatnya Mbak *tetep pertahankan modus promosi

      :D

      Hapus
  2. Kayanya terakhir coba delima waktu kecil..kasian ya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom terlambat untuk mencobanya pas udah segede sekarang Mbak :D

      Hapus
  3. mama aku kena keputihan, aku lagi nyari tanaan delima putih tapi sangat sulit memperolehnya ada tanaman itu dimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya di Pasar buah ada. Memang agak langka sih, tergantung daerah masing-masing. Moga dapet buahnya yaaaa dan mamanya bisa sembuh dari keputihan :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...