Langsung ke konten utama

Reward Board


Reward board bisa menjadi bala bantuan saat kita ingin ada keteraturan atau perbaikan tingkah laku si kecil. Kita bisa berkreasi dalam membuatnya, serta meletakkan poin-poin apa saja yang kita inginkan. Dengan penampilan yang menarik, serta reward yang menggiurkan, maka reward board bisa menjadi sangat efektif untuk digunakan. Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang tua, yaitu:
  • Suami dan istri harus memiliki komitmen yang sama. Jika suami dan istri sudah sepakat untuk menggunakan reward board, serta menetapkan reward apa yang akan didapatkan oleh si kecil, maka harus komit dan konsisten. Jangan memberikan reward tersebut apabila si kecil tidak dapat memenuhi kriteria.
  • Ajarkan anak tentang tauhid. Reward yang kita berikan tentu saja menggiurkan dan bisa memotivasi si kecil. Namun, perlahan ajari si kecil tentang tauhid, tentang Allah. Agar si kecil mengerti bahwa ada perintah dan ada larangan yang diberikan oleh Allah. Ada ganjaran berupa pahala dan dosa. Jadi, orientasi anak tak melulu kepada dunia. Perkenalkan bagaimana sayangnya Allah, agar anak mulai belajar mencintai Allah, dan perlahan melakukan sesuatu karena Allah.
  • Mengenalkan anak tentang malaikat Raqib dan Atid. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Perkenalkan anak dengan malaikat Allah, yang ditugaskan untuk mencatat amal baik dan perbuatan buruk yang dilakukan. Sehingga anak mengerti bahwa ia diawasi dan anak juga belajar untuk jujur.
Mengenai reward, itu tergantung dari orang tua, ingin memberikan reward apa. Namun, bila ingin sesuatu yang berbeda, berilah reward yang bisa membuat anak belajar, misalnya reward berupa kue kesukaannya bikinan kita, yang bisa dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Dengan demikian ia juga belajar tentang berbagi atau sedekah. Berminat untuk mencoba? ^_^

Komentar

  1. Salut dengan ibu2 sekarang. KReatif, edukatif :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini berkat berada di era digital juga yah Mbak. Para ortu jadi bisa saling share :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...