Langsung ke konten utama

Pertama Kali Nai Cabut Gigi


Yeaaaaaay! Nai udah tumbuh gigiiiii... Tapiii... gigi susunya belum goyang sama sekali. Jadi, gigi barunya tumbuh di belakang gigi susunya. Tumbuhnya juga agak miring. Haduuuuh... saya sempet khawatir giginya bakal berantakan ntar. Pertama kali ngalami hal ini, saya sempet bingung juga harus gimana. Si Abi bilang, tenang aja, ke dokter gigi, cabut deh gigi susunya. Ya ampuuuun... emang yah si Ummi, gituan aja dibikin ribet :D

Nah, akhirnya kami pergi deh ke Rumah Sakit. Ampuuuuun... antriannya puanjaaang. Kasihan adek Khai, baby kan nggak baik lama-lama di RS. Mau nggak ikutan, saya ngerasa sayang juga kalau nggak mendampingi Nai pertama kali dia cabut gigi. Laluuuu... nyerah deh. Akhirnya kami ke klinik kecantikan gigi, Perfect Smile. Haduuuuuh... segitunya banget yak, buat nyabut gigi susu aja. Bukan apa-apa sih, saya udah 3 kali ke klinik ini, waktu saya bermasalah dengan gigi dan gusi. Saya ngerasa nyaman aja di sini.

Sesampainya di klinik, nggak pake nunggu lama, kami bisa langsung masuk ke ruang dokter. Jadi, kata dokter, gigi susunya emang harus dicabut. Trus, biar giginya yang tumbuh miring itu ntar bisa rapi, Nai kudu sering-sering dorong giginya pake lidah. Moga aja yah ntar giginya beneran bisa rapi, anak wedok gitu lho :D

Nyabut giginya nggak lama, bentar doang. Yang cabut gigi Nai, yang deg... degan Umminya. Nai sama sekali nggak takut. Malah dia yang heboh banget pengen cabut gigi. Daaaaan... Nai bilang emang nggak sakit. Waaaah keren drg. Amiatun, SPOst, Nai diajak ngobrol, trus gusi di sekitar giginya diolesin apaaaa gitu, trus di suntik bius (suntiknya nggak kaya' suntik biasanya), trus dicabut deh.

Bayarnyaaaaaa? sebanding deh dengan kenyamanan dan pelayanan. 5 kali lipat dari harga RS :D

 Awalnya, wajah Nai tegaaaang :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...