Langsung ke konten utama

All About Women (Ust. Felix Siauw)



  1. Wanita disempurnakan dari tulang rusuk | bukan tulang kepala hingga tinggi, bukan tulang kaki hingga rendah, karena ia ialah teman

  1. Karena wanita diciptakan tidak sama | dia kelemahan dari kelebihan lelaki dan kelebihan dari kelemahan lelaki, ia melengkapi

  1. Karena wanita lekas linangan air matanya saat sedih, baik saat senang | karenanya suami diberikan dada yang lebih bidang

  1. Lembut lemah wanita tercipta untuk berikan buaian keturunan | maka dia penolong yang menawan, bukan lawan tanding yang sepadan

  1. Lemah lembutnya wanita bisa menguatkan suaminya | dan kekuatan suaminya adalah bila bisa berlaku lembut terhadap istrinya

  1. Wanita memiliki rahim, begitulah mereka menciptakan kerabat | sekaligus mengajari lelaki bahwa mereka tiada ada tanpa wanita

  1. Seorang wanita tidak perlukan lelaki yang pintar mengarang alasan | tapi wanita sangat menghargai lelaki yang berkata lewat perbuatan

  1. Seorang istri tidak perlukan suami yang pandai membangun argumen | karena yang ia harapkan hanya pengertian dan rasa aman

  1. Tidak berarti bagi istri alasan logis, fakta akurat dan detail penjelasan | ungkapan sayang sepele, dan pelukan akan berikan lindungan

  1. Bahkan seringkali seorang istri tidak perlukan lelaki yang pintar bicara | lebih berarti seorang lelaki yang pandai mendegar makna

  1. Karena bahagia bagi wanita bukan masalah fisik lahir | tapi apa yang bisa dirasa dalam hati batin

  1. Wanita lembut bukan untuk diinjak, melainkan untuk dilindungi | bagaikan hamparan hijau permadani dibawah kokoh rindang pohon berseri

  1. Bila selama ini wanita menaatimu wahai suami | berikan sedikit waktu bagi mereka untuk lakukan apa yang mereka nikmati

  1. Karena wanita dicintai tersebab kelemahannya | karena ia harus dilindungi dan dijaga

  1. Hargailah wanita, karena hargamu tergantung daripadanya | karena lelaki selalu dilihat dari 3 wanita, istri-ibu-anak perempuannya

  1. Tugas suami adalah mendidik istrinya agar paham | dan mendidik itu dengan pengertian, bukan suara keras dan ringan tangan

  1. Bila istri belum memahami | maka hendaklah suami bertanya apa yang salah dari cara didiknya, bukan bertanya siapa yang dia didik

  1. Seharusnya wanita menyambutmu dengan senyum laksana anak kecil saat hadirmu dirumah | tanda bahagia wanita nyata di muka

  1. Bila istri tiada bahagia bersama kita? | mungkin perlu kembali kita kaji Islam, dan jalan hidup Nabi, agar pandai bahagiakannya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...