Langsung ke konten utama

Feel



Jadi begini, tepatnya pada usia berapakah kamu mampu menjawab sebuah pertanyaan ”what i want in life”?. Atau bahkan sampai usia saat ini kamu sama sekali tidak pernah terpikirkan tentang pertanyaan itu, terlebih jawabannya dong. Kalau saya pribadi, sudah menjawab pertanyaan tersebut saat usia saya 16 tahun. Mungkin saya termasuk lebih beruntung dibandingkan Kanya. Kanya yang saat usianya sudah 28 tahun namun masih harus berjibaku untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Menguras emosi dan fisiknya. Memaksanya berdamai dengan sebuah kata kehilangan, serta membuatnya flash back menginjak sebuah tempat yang berada di masa lalu sebagai titik awal dari pencariannya.

Mungkin hal tersebut terlihat wajar, bukankah terkadang kita merasa tidak perlu memikirkan pertanyaan tersebut dan menjawabnya, saat kita sudah terbiasa berada di comfort zone. Cukup memakai filosofi bahwa hidup ibarat air yang mengalir.

Feel adalah novel karya Wulan Guritno dan suaminya yang terjun bebas di pasaran pada tahun 2009. Tapi, novel ini terjun bebas digenggaman saya saat tahun 2012. Saat saya menemukannya diantara tumbukan buku di Gramedia dengan slogan murah. Hanya seharga 10rb saja saya sudah bisa memilikinya, lengkap dengan sebuah CD yang berisi lagu Anang Hermansyah sebagai soudtrack.

Novel perdana Wulan dan suami tersebut terkesan biasa saja dan datar, setidaknya begitu yang saya baca di goodreads, hampir mayoritas mengatakan demikian. Secara pribadi, saya sependapat, terlepas dari ide dan misi novel tersebut. Saat membacanya, saya harus berhenti dan membacanya kembali beberapa hari kemudian. Bahkan saya menggunakan rumus membaca cepat agar novel ini bisa cepat selesai dibaca.

Ceritanya juga tidak jauh-jauh dari cinta dan persahabatan. Ya, sebuah tema yang memang tidak pernah usai untuk dibahas dalam berbagai cerita atau novel. Novel tersebut juga bertaburan quote keren yang mampu membuat saya merenung sejenak. Saya berharap, jika kelak Wulan kembali membuat novel, semoga novel tersebut lebih “menyentuh” sepeti totalitasnya disaat bermain film. So, untuk bacaan sebelum tidur atau bacaan disaat santai, novel ini cocok menemani Anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...