Langsung ke konten utama

Teatrikal Hati

Hidup itu seperti sinetron yah atau sinetron itu merupakan refleksi dari kehidupan?. Jangan lebay deh, jangan jadi ratu drama, sinetron yah sinetron. Eits, tapi apa nggak mungkin bahwa cerita yang terjadi di dalam sinetron tersebut, pernah terjadi juga dikehidupan nyata?. Bahkan bukannya banyak juga yang melabeli berdasarkan kisah nyata. Bagi saya pribadi nih, ada beberapa hal yang dulunya saya yakini cuma terjadi di sinetron atau film, eh ternyata ada juga di kehidupan nyata. Misalnya nih, orang kaya yang bangkrut dan dalam sekejap jadi melarat. Saya berpikir, masa sih langsung melarat dan hidupnya susah gitu, nggak punya aset lain apa, nggak punya saudara buat bantuin, dan sederet pernyataan ketidakpercayaan lainnya. Trus, ada orang yang jahatnya ampun-ampunan, ada yang jadi ratu dan raja tega, ada yang cintanya cinta buta sampai cinta mati, dll.

Oke deh, sekian dulu ngomongin sinetron, ntar saya dikira Ummi-ummi doyan nonton sinetron lagi. Jadi, sebenarnya mau bahas apa sih?. Oke deh, jadi begini temans. Saya sudah menuntaskan membaca sebuah novel apik duet dari 2 orang sahabat maya saya Mbak Rantau Anggun dan Mbak Binta Al-Mamba, yang berjudul Teatrikal Hati. Nah, di novel ini ada sosok-sosok yang rasanya nggak bisa dipercaya buat kita temui juga di dunia nyata, seperti halnya pembahasan sinetron tadi. Memangnya sosok yang seperti apa sih?, sosok tersebut adalah sosok perempuan yang kesabarannya luar biasa, sosok ayah dan suami yang kejam, sosok pasangan suami istri yang pernikahannya "hambar", sosok seorang perempuan yang trauma berat akan kejadian di masa lalunya, dan sosok perempuan yang mampu memendam perasaannya.

Biasa aja?, tapi menjadi luar biasa saat dideskripsikan dengan elok di novel yang berjumlah 342 halaman ini. Bagaimana tidak, novel ini menceritakan 4 orang wanita hebat dari generasi yang berbeda, lengkap dengan dinamika kehidupannya, ada mimpi, cinta, obsesi, dedikasi, dan lika-liku perjalanan nurani. Namun, memiliki sebuah benang merah yang berupa pertalian darah dan sejarah hidup.

Banyak hal yang bisa kita ambil ibrahnya dari novel yang dilabel novel islami ini. Bagaimana pengorbanan seorang ibu, bagaimana wanita bisa menjadi sosok yang sangat kuat, tentang kesabaran dan berbaik sangka atas semua kehendak Allah, bagaimana bisa ikhlas dalam menjalani hidup dan melupakan trauma masa lalu, juga yang tak kalah penting dan begitu saya "amini" adalah bagaimana penggambaran sebuah perusahaan perfileman yang begitu idealis dengan mengusung nilai-nilai kepatutan moral. Semoga perusahaan seperti yang digambarkan di novel tersebut juga ditemukan di dunia nyata, bukan fatamorgana.

Judul      : Teatrikal Hati
Penulis   :  Rantau Anggun dan Binta Al-Mamba
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tahun    :  2013





Komentar

  1. Bagiku, review ini dan bbm-an kita kapan hari, sama-sama berharga. Makasiih ya, Oci :)

    BalasHapus
  2. bukan hanya dalam novel saja, dalam kehidupan nyata..wanita adalah sosok yang hebat ...luarbiasa....salam ;-)

    BalasHapus
  3. makasih mbak ocii.. terkadang kalau fiksi harus pake riset kesesuaian dgn fakta, tapi malahan fakta kadang ada juga yg lebih lebai drpd fiksi.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, semakin tua, semakin paham saya bahwa hidup itu lebih kompleks daripada sinetron hehehe.... :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...