Langsung ke konten utama

I Will Survive

Bismillah...

Alhamdulillah... akhirnya saya lahiran buku lagi. Buku pertama yang lahir di 2016. Buku ini adalah buku duet ke 2 saya dengan Mbak Riawani Elyta. Buku segmen remaja, setelah buku duet kami sebelumnya yang terbit tahun 2013, Kitab Sakti Remadja Oenggoel yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva.

Judulnya I Will Survive. Buku ini membahas tentang kiat-kiat dalam menghadapi berbagai masalah. Nggak dipungkiri, masa remaja adalah masa-masa yang rawan. Nah, buku ini bisa menjadi salah satu pegangan biar bisa tetap survive dalam menghadapi masalah. Nggak cuma buat remaja aja kok. Buat kita-kita yang berada di usia dewasa juga cocok, apalagi yang masih sering galau suralau :D

Penasaran?. Buku ini bisa dipesan di Penerbit Indiva, atau tunggu kedatangannya di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. 



Judul : I WILL SURVIVE
ISBN : 978-602-1614-70-9
Penulis : Riawani Elyta dan Oci YM
Harga : 28K
Order SMS/WA ke 0819 0471 5588

Sinopsis :
“Masalah adalah sahabat terbaikmu. Mereka buatmu jadi lebih kuat dan buatmu menempatkan Tuhan di sisimu yang paling dekat.”
Sahabatan dengan masalah? Nggak salah tuh? Tenang, maksudnya kamu nggak perlu takut lagi dengan yang namanya masalah. Karena masalah kan udah jadi bagian dari kehidupan kita.
Terus nggak bisa hidup bahagia dong? Eits ... siapa bilang. Kebahagiaan sejati itu muncul bukan pada saat kita telah berhasil menyingkirkan semua masalah, tapi saat kita bisa mengubah cara kita berhubungan dengan masalah. Nggak percaya? Kamu bakal ngerasain itu kalau bisa melihat masalah sebagai sumber potensial kesadaran, kesempatan untuk mempraktikkan kesabaran, dan untuk belajar.
Dengan baca buku ini, kamu bakal tahu: apa itu masalah, jenis-jenis masalah, kiat menghadapi masalah, survive dari masalah, dan masih banyak lagi deh.
Kawan, hidup sekali, kalau nggak berarti, rugi! So, jadilah pemecah masalah yang mampu menyelesaikan sampai tuntas!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...