Langsung ke konten utama

Resep Roti Tanpa Diuleni dan Oven

Bismillah...


Dulu, kalau mau bikin roti sendiri kudu nyiapin tenaga ekstra. Keseringan bikin, lengan jadi berotot gede hihihi... (lebay). Gimana nggak, nguleninya itu lho yang nggak nahan. Enak kalau punya bread maker (nggak enak mikirin watt nya), nggak capek-capek nguleni. Tapi itu dulu. Kalau sekarang, kapan pun Mbak Nai minta dibikinin roti, hayuuuuuuk ajah.

Bikin roti tanpa diuleni. Mudah banget dan rasanya juga enak. Bahkan Mbak Nai bisa ikutan bantu. Trus, buat yang nggak punya oven, jangan khawatir. Rotinya bisa dimasak dengan teflon atau double pan. Seperti yang biasa saya lakukan, karena cuma punya otang alias oven tangkring, maka memakai teflon or double pan itu lebih mudah.

Langsung aja ke resepnya yak

Bahan:
  • 250 gr tepung terigu 
  • 1/4 sdt garam
  • 125 ml susu UHT
  • 2 sdt ragi
  • 1 butir telur
  • 40 gr butter
  • 2 sdm sula pasir
Cara membuatnya:
  • Lelehkan butter dengan menggunakan api kecil. Setelah meleleh, api dimatikan.
  • Masukkan susu dan gula pasir, aduk sampai tercampur rata dan gula mencair.
  • Masukkan telur, aduk, dan masukkan ragi.
  • Tutup panci selama 10 menit (setelah 10 menit, adonan akan terlihat buih).
 
  • Masukkan tepung dan garam, aduk hingga rata dengan menggunakan sendok saja.
  • Tutup dan diamkan selama 1 jam.
 
  • Kempiskan.
 
  • Tutup dan diamkan selama 1/2 jam lagi.
 
  • Setelah itu adonan bisa dibentuk dan diberi aneka toping seduai dengan yang diinginkan.
 
  • Olesi teflon/double pan dengan margarin, masukkan adonan yang telah dibentuk. Lalu panggang dengan menggunakan api yang sangat kecil.






Mudahkan?. Dulu, pertama kali coba, alhamdulillah langsung berhasil kok. O yah, biar rotinya cantik, bagian atas bisa dioles dengan kuning telur, margarin, atau susu kental manis. Selamat mencoba! ^___^



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...