Langsung ke konten utama

Resep Nasi Goreng Untuk Sahur di Bulan Ramadhan

Assalamu'alaikum...

Sahabat Ummi...

Nggak berasa yah, kita udah memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Hayuuuuk jangan kasih kendor, semangat kudu tetap menyala. Nah, kalau tadarusannya sampe larut malam banget, trus bangun-bangun cuma ada waktu setengah jam buat sahur, sementara lauk pauk ternyata udah habis, tenaaaaang, jangan panik. Masih sempet kok buat masak sesuatu. Seperti pengalaman saya, di kulkas cuma ada  2 butir telur, nggak cukup buat sahur 4 orang. Tapi saya nggak kehabisan ide, saya masak nasi goreng aja. Saya bakal share yah resep nasi goreng untuk sahur di bulan Ramadhan.

Kita bisa manfaatin apa yang ada di kulkas, lho. Saya punya 2 butir telur, ikan teri kering, cabe giling yang udah pake bawang merah dan bawang putih, 1 batang daun sop dan bawang prei, juga ada kecap manis dan saus tiram. Cara membuatnya juga gampang banget. Untuk 4 porsi nasi goreng, pertama kali yang saya lakukan adalah menggoreng ikan teri, lalu sisihkan. Selanjutnya saya tinggal menumis 3 sdm cabe giling tadi sampai harum. Setelah itu, masukkan 2 butir telur sambil diorak arik, tambahkan kecap, saus tiram, dan garam secukupnya. Lalu, masukkan nasi, aduk hingga semua tercampur rata. Terakhir, tambahkan irisan daun sop dan bawang prei. Sajikan nasi goreng tadi di piring, jangan lupa taburkan ikan teri yang telah kita goreng di awal tadi. Trus, coba cek kulkas, kali aja nemu lalapan :D

Sahabat Ummi...

Gampang bangetkan resep nasi goreng dari saya. Soal rasa, hauceeeek! sedaap. Kriuk-kriuk ikan terinya. O yah, biar ikan terinya nggak terlalu asin, jangan lupa direndam dulu, pas kita lagi persiapan memasak. Durasi memasak nasi goreng ini juga nggak lama, paling 10 menit jadi. Makan sahur bisa agak santai. Jangan lupa, minumnya air hangat yah. Selamat berpuasa ^____^



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...