Langsung ke konten utama

Save Palestina!


Nak, malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Kamu bisa tidur nyenyak di samping ummi dan Abi. Memeluk gulingmu, tidak digigit nyamuk, tanpa merasa kepanasan karena pendingin udara yang selalu siap untuk membuat hawa kamar menjadi sejuk, juga ada selimut yang akan menghangatkanmu saat kamu mulai merasa kedinginan.

Keesokan paginya, jika ingin mandi dengan air hangat, kamu tinggal minta kepada ummi untuk menyediakannya, begitu juga dengan menu sarapan dan bekal yang kamu inginkan. Setelah itu, dengan senyum mengembang kamu dan tas merahmu melangkah menuju sekolah. Di sana, kamu bermain gembira bersama teman-temanmu tanpa perlu merasa khawatir akan apapun.

Ummi menangis Nak, menangis atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Ummi menangis, membayangkan apakah kelak ummi bisa menjawab dengan baik apa saja yang telah ummi lakukan sebagai tanda syukur atas segala nikmat kebersamaan kita. Sementara, anak-anak seusiamu di Palestina sana satu-persatu meregang nyawa.

Selalu saja ada duka yang mendalam bagi ummi. Ummi nggak sanggup untuk melihat gambar-gambar setiap korban yang berjatuhan di negeri para syuhada palestina. Ada gigil yang menyapa, ketika di sana mereka tengah berjuang menjemput syahid. Sementara di sini, masih banyak yang tidak peduli, sekalipun hanya atas nama kemanusiaan.

Nak, saat Allah hendak menurunkan hujan, kamu kerap kali mengangkat kedua tangan kecilmu dan berdoa agar Allah tidak turut menghadirkan petir dan gluduk. Padahal, kamu ada di dalam rumah dan berada di dalam dekapan ummi. Nak, di sana, anak-anak seusiamu sudah tidak asing lagi dengan suara gemuruh atau kilatan cahaya. Belum tentu juga mereka bisa merasakan hangatnya pelukan dari seorang ibu atau ayah. Angkat juga kedua tanganmu untuk mendoakan mereka, Nak.

Nak, ummi memberimu nama Khansa karena terinspirasi dari Al-Khansa, ibu para syuhada. Saat ini, ummi tidak bisa berjihad dengan mengangkat senjata, tapi belum tahu kelak saat di masa mu dan anak-anakmu. Maka, jadilah kamu sehebat dan sekuat Al-Khansa, teguh imannya, mencintai Allah dan rasulnya melebihi apapun juga.

Nak, yang bisa ummi lakukan adalah mendoakanmu, membimbingmu untuk turut dalam barisan para tahfiz Al-Quran, dan mendidikmu dengan sebaik-baiknya. Ah... menuliskannya saja sudah membuat jari-jari ummi bergetar hebat dan air mata ummi mengucur deras. Saat ini, bayangan wajahmu dan wajah anak-anak Palestina berkelebat silih berganti di benak ummi. Mereka memang terlahir sebagai penghuni syurga, ayo Nak, kita juga harus banyak berbuat agar kelak bisa menyusul mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...