Langsung ke konten utama

Eggless Chocolate Cake Tanpa Mixer dan Oven



Ini resep, teteup saya dapetnya dari grup FB Dapur Aisyah. Kalau nggak salah, ini resep dari adminnya, Mbak Kamelia Marfu'ah. Aslinya  Mbak Kamelia masak pake rice cooker. Saya udah coba sih, tapi hasilnya nggak seperti foto yang Mbak Kamelia unggah, tinggi cakep. Saya malah nggak terlalu tinggi alias rada bantat. Menurut Mbak Kamelia, mungkin karena dia pake rice cooker yang ukuran kecil. Nah, buat temans yang mau nyobain pake rice cooker, caranya tekan tombol cook, setelah pindah ke warm, tekan lagi ke cook dengan jeda kurleb 5 menit. Lakukan ini sampai 3 atau 4 kali, baru deh adonannya mateng.



Tapi kalau mau aman, kukus aja deh, rasanya juga enak, nyoklaaaaat. Ini cocok buat yang alergi telur, karena nggak pake telur. Buat jualan juga oke, modalnya minim. Cara buatnya juga gampang, nggak pake lama. Nai sering nih minta dibawain bekal ini untuk sekolahnya. Oke deh, langsung aja yah resepnya yah, saya copas langsung dari grup:

Bahan:
  • 2 cup tepung (ayak)
  • 1/2 cup bubuk coklat (ayak)
  • 1 1/2 cup gula pasir
  • 1 sdt baking powder
  • 1 sdt baking soda
  • 1 cup susu cair
  • 1 cup minyak goreng
Topping:  
  • 1 cup dark cooking chocolate
  • 1/4 cup mentega
Cara Membuatnya:
  • Campur semua bahan kering,
  • Masukkan susu cair aduk rata (ngaduk pake garpu)
  • Tambahkan minyak goreng.
  • Setelah rata panggang pake rice cooker/ kukus
  • Pastikan mateng rata.
  • Setelah dingin kasi topping lelehan coklatnya



Kalo ngukus, inget yak jangan lupa tutup kukusannya di alas serbet atau kain, biar uap airnya nggak netes ke kue. Pancinya kudu dalam keadaan panas alias udah beruap, baru adonannya di masukkan. Untuk kematangan, kurleb 15-20 menit, pake tes tusuk yah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...