Langsung ke konten utama

Memaknai Kelulusan dengan Alhamdulillah...

Saya orang yang amat sangat suka belajar. Semangat saya begitu tinggi untuk sekolah. Terbukti, prestasi saya sejak Sekolah Dasar (SD) selalu membanggakan orang tua, nusa bangsa, dan agama *Halaaaaah :D
Gitu juga pas SMP dan SMA, sampai kuliah. Terbukti, saya berhasil menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun saja, dengan menyabet predikat cumlaude.

Tak puas, saya lalu melanjutkan S2. Berharap bahwa saya bisa mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang dosen. Daaan ternyata, saya berhasil jadi dosen walaupun sedang dalam masa pendidikan. Allah memang Maha baik. Walaupun, tidak sedikit juga kerikil, duri, paku, pohon tumbang, yang menghalangi langkah saya *berasa nemu penghalang di jalan

Dulu sih, pengennya pas usia 30 tahun, saya udah kelar S3 hihihi... Tapi, sepertinya nggak kesampaian, di usia yang hampir 29 tahun ini, saya belum juga bisa melanjutkan S3. Hmmmmm... ngalah, sepertinya nanti suami saya aja deh yang duluan. Karena, saya udah nggak ngajar lagi sejak anak pertama saya lahir.

Bayi imut yang dilahirkan dengan penuh perjuangan itu, mengubah semua proposal hidup saya. Saya memutuskan untuk resign. Setelah usia Nai (anak sulung saya) 2 tahun, baru deh saya coba-coba bikin usaha yang nggak mengharuskan saya meninggalkannya, karena saya tak ingin menyerahkan pengasuhannya kepada orang lain. Plus, saya juga mulai menekuni dunia tulis menulis yang sudah saya cintai sejak SMP.

Alhamdulillah... setidaknya, sekalipun di rumah, pikiran saya nggak mandeg dan ilmu saya juga dapat saya transfer lewat buku, walaupun baru terbitin buku manajemen 1, sedang proses 1, moga nyusul buku-buku manajemen berikutnya. Maklum saja, saya masih penulis labil, nggak segmented, penasaran dengan kemampuan dan senang mencoba tema-tema yang lain. Apalagi, punya anak kecil, yang saya prioritaskan banget dibandingkan kegiatan lainnya. Jadi, kalo nulis lamaaaaaa :D

Nah, bagaimana sih saya memaknai kelulusan S2 saya, bikin poin aja yak biar saya nggak ngalor-ngidul :D
  • Bersyukur atas apapun yang Allah beri. Namanya manusia, cuma bisa berdoa, berencana, berdoa, berusaha, berdoa, tapi Allah yang tentukan jalannya. Yang penting tetap semangat untuk selalu belajar. Bukankah banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sekitar. Kita bisa berguru dan belajar dari mana saja, asal ada kemauan untuk menjadikan diri lebih baik lagi.
  • Setelah selesai S2, saya merasa diri saya ternyata masih "bodoh". Semakin banyak mendapatkan ilmu, semakin merasa bahwa diri ini kekurangan ilmu. Jadi, tak ada yang bisa dan hendak saya sombongkan.
  • Ini nih yang dulu bikin saya berusaha keras buat move on, saat sekitar menyayangkan keputusan saya untuk tidak mengajar lagi. Padahal, menurut saya, saya bisa mengajar nanti, kapan saja, saat Allah memberikan saya kesempatan. Tapi, untuk mengasuh anak-anak saya yang masih sangat kecil, tidak bisa dilakukan kapan pun, karena masa kecilnya tak bisa diulang. Dalam mengasuh si kecil, saya bahkan merasa tidak ada apa-apanya. Ilmu saya amat sangat minim. Daaaaan, menjadi ibu ternyata lebih sulit dibandingkan mengerjakan tugas atau tesis :D. Saat gagal dalam mengerjakan tugas atau tesis, saya bisa mengulang. Tapi saat anak tumbuh tak sesuai dengan harapan... ntahlah, tak sanggup untuk saya ungkapkan. Untuk mendapatkan predikat cumlaude, rasanya lebih mudah dibandingkan mendapatkan predikat Ummi yang baik. Tapi begitulah, kembali kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha untuk melakukan yang terbaik, jangan berhenti untuk belajar. Bersyukur saya pernah kuliah dan berbaur dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan latar belakang. Sehingga, pola pikir saya menjadi lebih baik, pikiran saya menjadi semakin terbuka, dan selalu menghargai pilihan hidup orang lain.
http://keinatralala.wordpress.com/2014/10/23/keina-tralala-first-birthday-giveaway/



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersama Anak Liburan Dadakan Tapi Berkesan

Apa jadinya kalau keluarga yang jarang liburan, pas mau liburan eh si anak demam. Duh... Susah buat diungkapin kan yah. Ada sedih, bingung, kesel, nyesel, dll. Semua bayangan tentang liburan indah mendadak buram, karena liburan terancam batal. Padahal, liburannya udah dinanti-nanti banget. Yah, begitulah kira-kira yang saya rasakan pas mau liburan, eh adek khai demam. Pengaruhnya nggak cuma ke saya atau si Abi, tapi juga Mbak Nai. Sedih adeknya sakit, dan sedih juga kalau liburannya jadi batal. Habisnya, Mbak Nai udah bayangin gimana serunya liburan nanti, trus bakal diceritakan ke teman-teman di sekolahnya. Begitulah... Kami sekeluarga nggak pernah menyiapkan waktu khusus untuk liburan. Jadi, yang namanya liburan itu bisa dadakan aja atau pas sekalian ada moment tertentu, seperti undangan pernikahan dari luar kota. Jadi, bisa dibilang liburannya nggak jauh-jauh juga, bisa di seputar Riau aja, seperti ke Siak atau luar kota seperti ke Sumatera Barat. Transportasi yan...

Me Time Mandi Parfume dengan Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

Bismillahirrahmairrahim Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Sahabat Ummi... Sejak menjadi seorang Ummi, alias perempuan yang sudah punya anak, ada satu aktivitas yang menjadi sebuah kemewahan tersendiri buat saya. Yaitu, mandi. Hah, serius? Serius lho. Mandi itu bisa jadi sebuah me time . Nggak harus berlama-lama di dalam kamar mandi, karena kadang tak seindah ekspektasi. Sejak menjadi seorang Ibu, biasanya kita mulai begitu ahli bagaimana melakukan mandi secepat kilat. Sebelum bocah menggedor kamar mandi sambil nangis karena kehilangan Ibunya, walaupun baru nggak kelihatan 3 menit :D Baiklah, nikmati saja masa-masa itu, karena nggak bakal lama. Suatu saat nanti bisa jadi kita bakal merindukannya. Nah, bagaimana bisa tetap mandi kilat tapi kitanya jadi bersih dan wangi juga happy ?, tentu saja semua berhubungan dengan sabun mandi yang kita gunakan. Of course , penting sekali memilih sabun mandi yang tepat. Setidaknya kriteria pemilihan sabun mandi ...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...