Langsung ke konten utama

Rumah Makan Bude Di Pekanbaru

Di Pekanbaru, banyak banget tempat makan. Mulai dari ampera, rumah makan padang, cafe, restoran gede, maupun foodcourt yang ada di mall. Harganya juga bervariasi, ada yang nasi komplit plus lauk seharga 5 ribu rupiah saja, sampe yang harganya ratusan ribu per porsi. Tinggal menyesuaikan dengan selera dan isi dompet saja.


Nah, kalau temans bertandang ke Pekanbaru, bosen dengan rumah makan padang yang menjamur, sila mampir ke rumah makan Bude. Letaknya di Jalan Hangjebat x no. 17 Gobah. Makanan yang disajikan makanan khas Jawa,, Melayu, dan Minang. Ada banyak pilihan makanan, temans tinggal menunjuk makanan mana saja yang diinginkan di meja prasmanan, lalu mencari tempat duduk, tak berapa lama makanan yang temans pilih tadi akan diantarkan, lengkap dengan nasinya yang sebakul. Di sini, kita diberikan sayur gratis. Jadi, buat yang nggak pengen kebanyakan sayur di mejanya, nggak perlu nunjuk sayur yang ada di meja prasmanan, kecuali emang doyan banget sayur or ada sayur yang diincer di meja prasmanan.

 Meja Prasmanan

 Makanan nyampe ke meja

Untuk minumannya, coba deh es buahnya, enak dan segeeeeeer banget. Buat yang nggak doyan, ada minuman lain, teh es/anget, jeruk es/anget, atau air putih saja :D Yang jelas, menunya memang pas banget buat makan siang. Kalau temans ke sini, cepetan yah, sekitar jam 11 an gitu, karena di atas jam segitu, tempat ini bakal ruameee banget, bahkan susah buat dapetin tempat duduk lho. Padahal tempatnya lumayan luas, parkirnya juga, di sana juga ada fasilitas tempat shalatnya.

 Ada tempat shalat di samping belakang

Tempat parkir luas

Dulu, rumah makan Bude ini ada diseberang SMP Santa Maria, tempatnya juga agak masuk ke dalam. Jadi, walaupun pindah tempat, rumah makan ini udah punya banyak sekali pelanggan yang nggak peduli kemanapun rumah makan ini pindah, bakal tetep dijabani hehehe... Termasuk saya. Dulu, bisa dibilang tiap makan siang, saya selalu makan di sini, jaman saya masih jadi guru SMK, tahun 2008 lah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...