Langsung ke konten utama

Romantis Itu


“Mencintai tidak harus selalu dengan mengobral kata-kata romantis, meski itu diperlukan. Bukankah cinta itu lebih aplikatif, ada dalam kerja-kerja nyata dan realistis. Bukan hanya terbatas dalam tata bahasa yang mempesona diantara sepasang manusia yaitu suami istri.”


Romantis adalah bumbu penyedap dalam percintaan antara sepasang manusia yang terikat dalam sebuah mahligai pernikahan. Namun adakah defenisi romantis yang diakui dan dipahami secara universal?, tidak. Setiap individu punya versinya masing-masing. Mungkin bagimu romantis adalah saat kamu dibuai oleh untaian kata-kata mesra beserta pujian yang membuatmu melambung ke angkasa, atau saat seikat bunga mawar merah ada di hadapanmu ketika bangun pagi, bagaimana dengan coklat atau bingkisan manis lainnya yang sering dilambangkan sebagai tanda cinta.

Lalu, apakah yang terjadi jika kita hidup dengan seseorang yang jauh dari kesan romantis (versi sendiri), namun ia merasa bahwa telah menjadi seseorang yang romantis bagi pasangannya. Sesuatu yang rumit bukan?, apalagi jika sulit untuk dikomunikasikan. Lagi-lagi karena perbedaan, walaupun sebenarnya perbedaan itu indah jika disikapi dengan positif.


Lelaki dan perempuan adalah dua makhluk ciptaan Allah yang memiliki berbagai perbedaan. Perbedaan ini bukan sekadar berbeda secara fisik, melainkan juga cara berpikir, berkomunikasi, memandang suatu masalah, memahami, bereaksi atas suatu kejadian, memberikan penghargaan, bahkan cara menunjukkan perasaan sayangnya kepada pasangan. Hal ini membuat seolah-olah laki-laki dan perempuan berasal dari planet yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda pula.

Nah, mulailah komunikasikan masalah romantis tersebut terhadap pasangan. Sampaikan  secara langsung perlakuan bagaimana yang kita inginkan darinya. Terkadang, kita sering kali beranggapan bahwa ketika sudah hidup bersama, pasangan akan mengerti dengan sendirinya mengenai perlakuan bagaimana yang kita inginkan. Padahal, seorang istri dan suami memiliki cara berpikir yang berbeda, jalan berpikir yang tidak sama. Oleh karena itu, sebagai seorang istri, janganlah kita berpikir menurut cara berpikir kita sendiri. Bukankah pasangan kita adalah seorang manusia biasa yang tidak mengetahui yang tersimpan di dalam hati. Bahkan, sesuatu yang menurut kita tampak begitu jelas, bisa jadi menurut pasangan tidak.

Sebaiknya bukalah ruang komunikasi selebar mungkin. Komunikasi yang baik akan membuat suami dan istri saling mengenal siapa diri mereka, saling mengerti apa yang mereka butuhkan dan inginkan, juga bagaimana perasaan mereka. Tanpa adanya komunikasi, pernikahan yang dijalani tentunya akan menjadi terasa sangat sulit dan dipenuhi dengan kesalahpahaman.

So, tidak ada salahnya untuk kita mengatakan terlebih dahulu kepada pasangan bahwa romantis bagi kita adalah..........



Coming soon:
Buku Panduan Istri Shalihah

Komentar

  1. Komunikasi 2 arah harus dilakukan sepanjang masa. Usia pernikahan saya sdh 17 tahun, dan tetap saja ada hal2 membutuhkan penyesuaian...

    BalasHapus
  2. Yup bener banget Mbak Niken ^_^

    wow... udah 17 tahun yah, saya baru hampir 4 tahun. tengkiyu yah Mbak udah mampir..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...