Langsung ke konten utama

Smart Writer, Menulis Fiksi Bukan Lagi Mimpi



Bismillah...

Kalau ada pertanyaan tentang berapa banyak koleksi buku fiksi yang saya punya, jawabannya tidak banyak. Perbandingannya dengan buku non fiksi 1:10, jadi kalau ada 10 buku non fiksi, buku fiksinya hanya ada 1.

Lho kok bisa, nggak suka baca fiksi yah? Nggak juga, suka kok. Saya punya novel, kumpulan cerpen, buku puisi, bahkan komik. Memang jumlahnya tidak banyak, karena ada pertimbangan tertentu dalam pembeliannya. Salah satunya adalah siapa penulisnya.

Saat masa SMA dulu, buku fiksi yang saya miliki semuanya hasil karya anggota Forum Lingkar Pena. Sebut saja Helvy tiana rosa, Asma Nadia, Izzatul jannah, Afifah Afra, Ifa avianty, Almh Nurul f huda, dll. Selanjutnyaa seiring waktu, saya juga membeli karya penulis lain dan akhirnya kecewa dengan muatan ceritanya. Maklum, dulu belum mengenal adanya resensi buku yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk membeli.

Tapi sekarang, tak hanya bisa mencari info berupa resensi buku yang hendak dibeli, saya bahkan mengenal penulisnya dan bisa berinteraksi langsung lewat dunia maya. Sebut saja Leyla Hana dan Riawani Elyta. Penulis yang saya kenal lewat sosial media, facebook.

Pertama kali membaca buku fiksi karya mereka, tepatnya novel, saya langsung jatuh cinta. Tak hanya dengan alur ceritanya tapi juga pesan moral yang dibawanya. Tak diragukan lagi, mereka berdua adalah penulis novel yang kece. Nggak percaya? Mbak Leyla Hana atau biasa disapa dengan Ela ini sudah aktif di dunia kepenulisan lebih dari 17 tahun. Karyanya berupa fiksi dan non fiksi, sudah tak bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Belum lagi, mama dari 3 orang putra ini juga aktif di dunia blogging.

Tak kalah dengan Mbak Ela. Riawani Elyta atau yang biasa saya sapa dengan Mbak Lyta juga seorang penulis yang berprestasi. Beragam lomba menulis bergengsi telah berhasil dimenangkannya. Telah banyak menghasilkan karya baik berupa fiksi maupun non fiksi. Ibu dari 2 orang putra dan seorang putri ini juga seorang blogger.


Tuh kan, kece banget. Jadi, nggak heran deh kalau akhirnya mereka berdua membuka sebuah kelas menulis fiksi secara online yang dinamai Smart Writer. Mereka berdua melakukan bimbingan dalam menulis novel. Aiiiiiih... Pengen banget deh ikut kelas ini.

Selama nyemplung di dunia kepenulisan, saya belum berhasil dalam menulis fiksi, baik berupa cerpen apalagi novel. Padahal, pengen banget bisa menulis novel yang sarat dengan pesan moral yang baik, novel pembangun jiwa. Kerennya, berdakwah lewat ceritalah yah, ecieeee... ^__^

Begitulah, saat ini ibaratnya nih yah, nulis fiksi itu masih sebatas mimpi!. Tapi, mimpi bisa aja jadi kenyataan yak. Apalagi kalau dibimbing langsung oleh kedua penulis kece ini, Mbak Ela dan Mbak Lyta. Aaaaah... Semoga aja!. 

http://smartnulis.blogspot.co.id/2016/02/1st-giveaway-smart-writer.html

Komentar

  1. Saya kalau lagi baca novel, cerpen, puisi, cerbung, rasanya pengen ikutan buat. Eh, baru huruf pertama aja bingung mau dirangkai sama huruf & kalimat apa selanjutnya. Haha

    Boleh juga nih kelasnya. Siapa tau bisa jd penulis terkenal ya mbak. Xixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toooos! samaan kita Mbak

      Makanya ikutan GA ini, siapa tahu beruntung bisa ikutan kelasnya secara gratis hihihi... *dilempargulingsamajuri

      Hapus
  2. Yups, dua-duanya: Leyla Hana&Riawani Elyta dua maskot Be a Writer yang full kreatifitas, Moms Smart
    ga rugi belajar nulis dari keduanya, beberapa penulis salah duanya seperti Ade Anita-Aida MA dulu juga banyak belajar dan menembus penerbit mayor dari BAW atas bimbingan Leyla Hana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk Mbak Eni juga, Smart mom di BAW :)

      Hapus
  3. Menjadi writer wannabe saya mah... bukunya ga terbit terbit hihihihihiiii

    BalasHapus
  4. sama dong, saya juga pengen punya buku novel karya sendiri :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...