Langsung ke konten utama

Menangislah... Karena Kita Manusia

Manusia dikaruniai berbagai macam perasaan. Ia bisa merasa sedih, kecewa, terluka, atau bahagia. Seandainya bisa memilih, mungkin kita lebih memilih untuk menjalani hidup yang penuh dengan kebahagiaan saja, tanpa duka dan air mata. Tetapi, semua itu tidak mungkin. Sudah menjadi sebuah ketetapan bahwa dunia ini penuh dengan suka dan duka. Setiap perasaan yang dirasa adalah sebuah manisfestasi dari hidup yang tidak stagnant.

Seandainya dunia ini hanya ada kebahagiaan, dan seluruh manusia diliputi dengan tawa ceria, maka keseimbangan akan terganggu. Emosi menjadi tidak akan pernah stabil. Emosi dikatakan stabil apabila ada dua keadaan yang berbeda yang terwujud dalam diri yang satu.

Ada saat-saat tertentu kita bisa tertawa riang, namun kemudian kita juga bisa menangis bersedih. Sama halnya dengan perputaran hidup, terkadang kita berada di atas dan terkadang kita berada di bawah. Bayangkan bila hidup ini berjalan seperti itu-itu saja, tanpa ada emosi jiwa yang bisa membuat kita menangis. Kita tidak akan pernah mengenal arti dari bersabar dan ikhlas. Kita tidak akan pernah mengenal arti bahagia, karena bahagia ada jika kita telah merasakan pahitnya kesedihan.

Bukankah, kita tidak melulu menangis karena kesedihan? merasakan sebuah kebahagiaan yang membuncah juga mampu membuat kita mengeluarkan air mata.



Komentar

  1. selamat atas terbitnya buku ini ya mba
    semoga bermanfaat dan barokah :)

    BalasHapus
  2. Tengkiyu Mbak Elaaa... ^_^

    Aamiin..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...