Langsung ke konten utama

Semenit Dibayar Sejam


Hari ini, untuk kedua kalinya saya “tersentil”. Mungkin semua sudah sangat familiar dengan istilah jam karet. Istilah negatif tersebut, sayangnya identik dengan kebanyakan manusia di Indonesia. Kalau ada janji, ngaret. Datang buat rapat di kantor, ngaret. Memulai suatu acara, ngaret. Hmmmm… dan untuk alasan yang dikemukakan juga bermacam-macam, tapi sepertinya alasan yang berada diurutan teratas adalah MACET.

Ya sudahlah, saya bukan ingin membahas masalah macet atau mendata alasan apa saja yang biasa diungkapkan seseorang ketika ia ngaret. Saya hanya ingin bercerita tentang diri saya sendiri yang ngaret hanya 1 menit, ya 1 menit yang harus saya bayar dengan 1 jam.

Ceritanya gini, hari ini saya ada janji dengan dosen pembimbing tesis saya untuk bertemu di kampus, untuk melakukan bimbingan. Waktu yang disepakati adalah pukul 12 siang. Saya berangkat dari rumah memang sedikit agak terlambat, terlebih sempat mampir dulu untuk menyelesaikan urusan  kerjaan suami. Sementara, untuk sampai di kampus butuh waktu kurleb 1 jam (kalau macet), ngebut bisa ½ jam hehehe... so normalnya kira-kira sendiri aja yah ^_^

Dengan memakai sepeda motor, menerobos ramainya lalu lintas di tengah matahari yang bersinar garang *lebay
Kami (saya, suami, dan Nai) berhasil sampai di kampus jam 12 kurang 3 menit. Sesampainya di parkiran kampus, saya langsung ambil jurus langkah kaki seribu menuju ruang dosen yang berada di lantai 2 *busyeeeeet... aseli ngos-ngosan
Sesampainya di ruangan, celingak-celinguk eh ternyata no body’s perfect eh salah, yang benar tidak ada orang sama sekali.

Saya duduk dan melihat jam tangan, ternyata waktu menunjukkan pukul 12 lewat 1 menit. Setelah mengatur nafas, saya lalu menghubungi dosen saya tersebut, tapi di reject. Oke lah, akhirnya saya sms, tapi nggak dibalas. Tiba-tiba, ada seorang dosen (dosen saya waktu S1 dulu) menghampiri. ”Ci, ngapain di sini?.” Sapa Pak dosen.
”Mo bimbingan tesis dengan Pak Gus.” Jawab saya.
”Pak Gus barusan aja turun, dia bilang mau ke lemlit.” Ujar dosen saya santai sambil tersenyum.
Yah, apa mau dikata. Semua orang tahu kalau Pak dosen saya itu adalah seseorang yang on time. Jadi, seandainya kami lewat jalan yang sama, mungkin kami akan berpas-pasan. Sayangnya, saya lewat belakang dan Pak dosen lewat depan.
Akhirnya, saya coba untuk menelepon lagi, kali ini diangkat dan saya diminta untuk menunggu di ruangannya.

Membayar keterlambatan saya yang 1 menit tadi, saya harus menunggu Pak dosen kurleb 1 jam. Untung saja saya ditemani dengan 2 orang dosen semasa saya kuliah S1 dulu. Ngobrol macem-macem, sehingga waktu berjalan tidak berasa menyiput. Cuma, Nai yang heboh, si Abi harus ngajak jalan-jalan dulu dan jajan.

Pak dosen yang ditunggu akhirnya datang. Beliau mengambil tesis saya dan bilang akan membacanya dulu, 2 hari lagi silahkan jemput di rumahnya. Untuk diketahui, rumah Pak dosen tidak terlalu jauh dari rumah saya hehehe... Cuma itu, lalu saya pamit. Pertemuan yang sangat singkat bukan, dibandingkan waktu untuk menunggu.

Hebat, saya salut akan konsistensi dosen saya yang satu ini untuk on time. Saya pribadi masih sering ngaret, terlebih saat masih mengajar dulu. Kali ini, saya kembali diingatkan tentang betapa berharganya waktu, karena time not is money, tapi waktu adalah pedang. Waktu siap untuk menebas siapa saja yang tidak menggunakannya untuk kebaikan dan kemuliaan. Oke deh, karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.25 wib, maka sudah saatnya saya menuju peraduan, untuk beristirahat dan bangun disepertiga malam nanti untuk bermesraan dengan-Nya   ^_^



Untuk mengetahui arti SATU TAHUN, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas.

Untuk mengetahui arti SATU BULAN, tanya pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Untuk mengetahui arti SATU MINGGU, tanya pada editor majalah mingguan.

Untuk mengetahui arti SATU HARI, tanya pada buruh harian yang punya enam anak untuk diberi makan.

Untuk mengetahui arti SATU JAM, tanya pada orang yang sedang mengerjakan ujian.

Untuk mengetahui arti SATU MENIT, tanya pada orang yang ketinggalan kereta.

Untuk mengetahui arti SATU DETIK, tanya pada seseorang yang selamat dari kecelakaan.

Untuk mengetahui arti SATU MILIDETIK, tanya pada seseorang yang memenangkan medali perak di Olimpiade.

Komentar

  1. bener mbak, waktu itu berharga bgt ya..

    BalasHapus
  2. Iya Mbak Myra, semoga kita nggak termasuk orang yang ngaret yah hehehe...

    BalasHapus
  3. Bener banget Mbak Suria, cepeeeeet banget berlalu. sehari 24 jam aja masih berasa kurang ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

#DearDaughter Untuk Nai Tercinta

Dear... Khansa Nailah Gadis kecil berkerudung yang sangat ceriwis dan baik hati. Bayi mungil ummi yang kini telah berusia 4 tahun. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Ummi masih merasa baru kemarin Nai ummi kandung, ikut dalam setiap aktivitas ummi. Saat mengandung Nai, ummi super sibuk. Ummi mengajar full dari hari senin sampai jum'at, dan sabtu minggunya Ummi Kuliah S2. Nai Ummi bawa naik turun tangga sampai 3 lantai, setiap hari. Tapi kamu baik-baik saja, kita berdua kuat. Saat hamil Nai, Ummi juga ngidam lho, sama seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi ngidam Ummi sedikit berbeda, Ummi ingin jalan-jalan pakai Honda Jazz Sport keluaran terbaru hihihi... aneh yah, Abi dan Opa mu sampai bingung. Keluarga kita nggak ada yang punya mobil itu, tapi Alhamdulillah ternyata teman sekantor Opa baru beli mobil itu, jadi kesampaian deh ngidam Ummi. Hari-hari yang Ummi lewati saat mengandung Nai, semuanya luar biasa, Ummi sangat menikmatinya, walaupun berat badan Ummi Naik drastis, ...

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...