Langsung ke konten utama

Saya Alumni ROHIS dan Saya Bukan Teroris


Gambar dari sini

Lewat ROHIS, Allah memberikan hidayah sehingga akhirnya saya menutup aurat
Lewat ROHIS, saya menjadi kaya akan ilmu dunia akhirat
Lewat ROHIS, tali persaudaraan sesama muslim terasa begitu erat


Sedih sekaliiii... rasanya, saat salah satu media TV nasional menyampaikan kampanye provokatif terhadap ROHIS. Pada tanggal 5 September lalu, tayanglah sebuah program dialog dengan narasumber guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta, mantan kepala Badan Intelijen Negara, dan seorang pengamat terorisme.

Dalam dialog tersebut, ditayangkan 5 pola rekrutmen teroris muda, salah satunya adalah melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah.

Gambar dari sini

Nah, pertanyaannya adalah apakah ada ekstrakurikuler di sekolah yang dilakukan di masjid-masjid selain ROHIS?

Memang dalam dialog tersebut tidak disebutkan secara langsung, melainkan secara implisit jelas menjurus kepada ROHIS. Alangkah lucunya negeri ini. Jika tawuran antarpelajar menjadi sesuatu yang wajar saat ini, mengapa pelajar yang duduk melingkar di masjid sekolah untuk mengasah akhlak malah dibesar-besarkan, sebagai generasi muda teroris yang harus dibubarkan.

Sekalipun pihak TV swasta nasional tersebut sudah meminta maaf dan mengatakan hanya kesalahpahaman, tapi sungguh hal ini sangat disayangkan. Entahlah, entah apa lagi pemberitaan yang akan datang setelah sebelumnya ada pemberitaan mengenai wacana sertifikasi ulama.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyapa Kembali

 Apa kabar? Kita bersua kembali setelah sekian lama. Akhirnya, tak bisa pungkiri, jika rindu mengetuk kalbu, tanda harus segera bertemu. Di ruang ini, sebuah rumah maya, yang dulu kehangatannya begitu nyata. Rindu akan tegur sapa di kolom komentar. Rindu dengan aktivitas blog walking nya. Dan banyak rindu lainnya yang sulit untuk dijabarkan, karena udah keburu berasa mengharu biru. Semoga semua sahabat Ummi, sehat-sehat ya.

Merangkai Kata

 Merangkai Kata Ternyata rasanya tak semudah dulu ya, saat nge-blog jadi suatu rutinitas. Tangan bisa dengan lincahnya menari di atas keyboard. Isi kepala berloncatan, menjadi berbaris-baris paragraf. Hmmm... apa ya, mungkin salah satunya karena berjalannya waktu semua sudah berubah. Waktu membawa kita pada begitu banyak peristiwa yang akhirnya menjadikan hidup semakin penuh dengan berbagai pertimbangan. Ya, berbagai pertimbangan. Apakah ini layak dibagi?, Bagaimana jadinya kalau ini di share?, Apakah ini bermanfaat? dan berbagai pertanyaan lainnya, yang akhirnya isi kepala urung untuk dituliskan. Sempat terpikir juga, apakah saya sudah terlalu tua? wkwkwk... yang sudah di fase butuh kedamaian, menghindari konflik dan drama, sudah tidak mencari validasi lagi, dan sudah semakin takut dengan kematian. Tapi, tak bisa pungkiri bahwa saya merindukan dunia kepenulisan. Saat menulis adalah sebagai sebuah katarsis, saat menulis adalah salah satu cara untuk menebar kebaikan, dan saat menuli...

Mamak Era Digital yang semakin Produktif dan Kreatif dengan ASUS E202

Assalamu'alaikum... Sahabat Ummi... Sesama Mamak-mamak yang hidup di era digital dan mendapatkan hasil dari kegiatan online -nya, tentu udah paham lah yah seluk-beluknya. Iya, kok di rumah aja tapi bisa berpenghasilan. Kok di rumah aja, tapi sibuknya ngalahin orang kantoran. Kok di rumah aja, tapi pas pergi-pergi bawaannya banyak banget seperti orang yang mau presentasi. Beda banget dengan mereka yang belum paham tentang dunia digital beserta peluang berpenghasilan di dalamnya. Sampai-sampai, saya pernah ditawarkan pekerjaan, karena kasihan melihat saya yang magister tapi cuma jadi ibu rumah tangga :D Padahal, ini hanya masalah pilihan aja. Saya memilih untuk di rumah. Berpenghasilan pun, tetap bekerjanya di rumah. Tanpa menganggu fokus utama saya, yaitu anak-anak. Apalagi, berpenghasilannya dari hobi. Hati senang, dompet pun riang.    Buku terbaru saya dan beberapa pembacanya Sahabat Ummi... Sebagai Mamak-mamak, ada banyak hal yang b...